Banyak orang luar melirik kota Jogja sebagai kota persinggahan di akhir pekan atau hari libur lainnya. Entah apa alasan pastinya, tetapi banyak orang bilang suasana jogja lah yang membuat mereka kesengsem, jatuh cinta, kasmaran dengan kota itu.
Sudut-sudut kota jogja memang memiliki ciri khas tersendiri. Namanya saja khas, jelas tidak akan ditemukan di kota lain tentunya.
Bagaimana dengan orang (asli) jogja sendiri? Setahu saya mereka justru melirik kota besar lainnya untuk sekedar mencari rupiah yang lebih besar. Mungkin oleh sebab itulah, sulit mencari penghuni jogja yang benar-benar mengenal kota jogja, kemudian memberitakan kepada lainnya, “Ini lho Jogja, punya malioboro, punya candi ijo, punya ini dan itu.”.
Dan disuatu waktu terpilihlah seseorang itu untuk dinobatkan sebagai Penghuni Jogja Terbaik. Dialah Zam, yang pada akhirnya di daulat untuk menjadi Warga Nomor WAHID di kota tersebut. Saya beranggapan ada hubungan yang melekat antara Zam dengan Jogja, bahkan melibihi hubungan antara anak dan orang tuanya. Mungkin Zam sendiri beranggapan candi dan museum adalah tempat bermain dengan anak-anak lainnya. Ya, bermain apa saja bakiak, congklak, sudamanda, petak umpet seperti lumrahnya anak-anak lainnya.

Kemahiran beliau dalam menguasai pemetaan tempat eksotik di Yogyakarta dan sekitarnya, membuat rakyat jelata menginginkan beliau menjadi Sultan ndoyokarta hadiningrat seumur hidup. Aura yang terpancar dari tubuhnya mencerminkan dialah yang menerima wahyu keprabon di kasultanan “ndoyokarto hadiningrat”. Dari auranya, Siapa saja pasti mengenal dari gaya fotonya. Bahkan di sebuah foto siluet sekalipun orang pasti mengenal “Itu pasti Zam”.
Hari ini, terhembus kabar kabur, orang nomor satu di CahAndong itu berangkat ke Jakarta. Kali ini dia tidak sedang berperan sebagai Tong Zam Chong yang berangkat ke barat untuk mengambil kitab suci, melainkan untuk mencoba babad alas di kota yang dipenuhi elit politik itu. Berebut rupiah dengan elit politik. Mengapa saya setarakan level Zam dengan Elit Politik? Dari intertainment CahGosip, gajinya di Jakarta tak jauh beda dengan uang sidang yang diterimakan anggota DPR.

Terlalu banyak kenangan bersama Zam, sampai saya lupa tentang apa yang ingin saya tuliskan disini. Saya belajar banyak dari Zam. Banyak hal yang belum kita lakukan untuk kota ini, semangat guyonmu akan terus dan tetap mengalir dalam jiwa para jelata. Kami merindukanmu. Jogja pasti bangga, mempunyai penghuni sepertimu.
DICARI! Penghuni CahAndong terbaik! *semua telunjuk menunjuk Zam*



