100 tahun kebangkitan nasional sama dengan 100 kali bangsa ini mencoba bangkit dari segala masalah yang dihadapinya. Dan selama itu pula kebijakan persoalan negara (baca: pemerintah) yang tak selalu sepaham dengan arus bawah, atau lebih tepatnya hanya sepaham dengan beberapa gelintir orang yang berkepentingan saja.
Mengungkit kebijakan pemerintah selama ini, sama dengan membuka luka lama rakyat yang merindukan hidup sejahtera.
Memperingati 100 tahun kebangkitan nasional dengan diiringi “nyanyian” rencana kenaikan harga BBM akan menyimpulkan bahwa 100 tahun kebangkitan nasional ditindaklanjuti pula dengan kebangkitan harga BBM. Bantuan Langsung Tunai (BLT), solusi dari pemerintah cukup membantu, namun apakah ini akan berjalan untuk selamanya? Atau sebagai pemanis di awal kenaikan saja?
Tidak kah kita mengingat, menjadi orang miskin sangat mudah di negari ini sehingga hanya bermodal laporan “Dia itu miskin” dari pemerintah desa yang notabene adalah orang dekat pun lantas bisa mendapatkan kupon untuk mengambil “jatah” yang sepantasnya diterimakan meraka yang “benar-benar” membutuhkannya.
Pemerintah, semestinya memberikan sebuah solusi secara continue, bukan sesaat seperti BLT. Seperti kalimat bijak “Memberikan kail akan lebih baik daripada memberikan ikan” mungkin musti diterapkan pemerintah.
Pemerintah masih saja mengikuti nasihat para mentor pengembangan diri “Bangkitlah satu kali lebih banyak dari pada kegagalan Anda, niscaya akan sampailah kita pada masa kejayaan”. Kebangkitan sejati yang di butuhkan rakyat yang lebih tepat mungkin adalah Kebangkitan (yang) Rasional yang dimotori Pemerintah bukan Kebangkitan Kolonial.
Akhirnya, selamat memperingati menindaklanjuti Hari Kebangkitan Nasional, jayalah negeriku.
