Pagi itu dengan diselimuti sedikit mendung yang menggelayut di langit Jogja, mengantarkan kami ke salah satu tempat bersejarah di kota itu. Saya yang ditemani oleh dua orang sahabat saya Pompy dan Seta, mereka berdua adalah mahasiswa UNY yang asli bukan UNY versi CahAndong. Pagi itu kami sengaja datang ke Jl. Kompol B Suprapto yakni jalan dari jembatan layang Lempuyangan ke arah timur.
PD. Taru Martani, sebuah perusahaan dagang milik pemerintah daerah yang hingga kini masih memproduksi cerutu baik untuk dalam dan luar negeri. PD Tarumartani berdiri pada tahun 1918. Waktu itu didirikan oleh salah seorang penduduk berkewarganegaraan Belanda.
Awalnya pabrik ini didirikan di daerah Bulu, tepi jalan Magelang dan bernama N.V. Negresco. Dan pada tahun ketiga 1921 baru dipindahkan ke lokasi yang sekarang ini. Pada masa pendudukan Jepang di Jogjakarta, pabrik ini pun berganti nama menjadi Java Tobacco Kojo. Dan baru pada 23 September 1972 nama PD. Taru Martani diresmikan oleh menteri ekuin yang kala itu dijabat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Taru Martani tidak diambil sebagai nama tanpa makna. Seperti orang jawa pada umumnya, sebuah nama selalu memiliki makna tertentu. Taru atau (n)daru bermakna daun, sedangkan martani berarti kehidupan. Jadi arti dari Tari Martani adalah daun (tembakau) yang memberikan sumber kehidupan. Tentu saja ini bagi petani tembakau dan karyawan pabrik. Bagi perokok (aktif maupun pasif) daun tersebut justru akan mengambil kehidupannya.
Proses pembuatan cerutu
Kami yang waktu itu ditemani oleh mbak Retno salah satu pegawai PD Taru Martani, mendapat banyak penjelasan tentang proses produksi cerutu kualitas ekspor ini. Bagian pertama adalah bagian daun pembungkus cerutu. Biasanya saya akan merasa mual ketika mencium bau tembakau. Namun, diruang tersebut saya tidak mendapati bau tembakau. Aroma vanilalah yang justru tercium diruang itu, membuat saya betah berlama-lama diruang tersebut. Diruang inilah tembakau diolah sebagai pembungkus, dicuci kemudian diangin-anginkan.
Selanjutnya adalah ruangan dimana mesin-mesin pencacah daun ditempatkan. Mesin-mesin ini sudah ada sejak pabrik tersebut masih milik perorangan warga Belanda. Memang meskipun hampir keselurahannya dikerjakan secara manual, tapi proses pencacahan/pemotongan daun tembakaunya sudah menggunakan mesin.
Tembakau yang diolah PD Taru Martani didatangkan dari berbagai tempat, Jember, Boyolali bahkan Brazil. Diruang ini saya mencium bau tembakau beraroma vanilla, dan juga rum/bir. Yang ternyata memang untuk produk luar negeri cerutu Taru Martani diproduksi dengan aroma khusus seperti vanilla dan juga mint.
Setelah ruangan mesin strip dan campuran, ruang berikutnya adalah ruang pembuatan kepongpong cerutu dan juga mesin pres. Jadi setelah kepongpong cerutu dibuat selanjutnya akan di pres menggunakan mesin pres. Baru kemudian diberi label sesuai dengan rasa dan produknya.
Hingga kini Taru Martani memproduksi 3 formulasi cerutu Natural Cigar (murni tembakau), Flavour Cigar (tembakau dengan saus/aroma Mint, Amareto, Vanilla, Rum dan Hazelnut) dan Mild Cigar (tembakau “ringan’).
Berhubung mbak Retno juga memiliki kesibukan sendiri dan terlalu cepat menjelaskan, saya dan rombongan pun menjadi belum puas berkeliling di pabrik seluas + 2 hektar tersebut. Terlebih hampir 300an karyawan yang didominasi wanita yang sedang bekerja disana pun membuat membuat kami tak bosan untuk berkeliling sekali lagi.
Dengan membayar IDR 15000 per orang, kita sudah bisa menengok dapur cerutu buatan Indonesia yang melegenda hingga mancanegara dan mendapatkan bingkisan beberapa produk cerutu untuk dibawa pulang.
Ingin mencoba produk lainnya? Bisa dibeli waktu berkunjung, dari Senin hingga Jumat pukul 08.00 hingga 14.00, langsung saja menuju ke bagian Koperasi untuk menemui salah satu petugas yang akan mengantarkan berkeliling dan memberikan penjelasan.
Taru Martani, sebuah tempat wisata alternatif bagi yang hobby mengkoleksi cerutu atau bagi yang ingin sekedar mengetahui bagaimana kenikmatan dalam sebuah batang cerutu diciptakan.

