Suatu hari di siang yang panas di dalam sebuah ruangan yang terlihat monitor komputer dimana-mana
“Hahahaha….”, terdengar berkali-kali tawa menggelagar dari ruangan sebelah.
“Lhah, ketawanya itu loh.”, sahut teman di ruang sebelah yang kebetulan bloger juga.
Tertawa, ngguyu (jawa), seuri (sunda) -cmiiw- atau sebutan lainnya dalam bahasa di daerah lainnya merupakan satu bentuk ekspresi yang menggambarkan emosi yang sedang bahagia, tergelitik, atau yang lainnya (seperti: gangguan jiwa misalnya).
Memang banyak yang bilang kalau tertawa itu sehat, tapi apalah artinya kalau yang tertawa itu kita temui disebuah bangsal Rumah Sakit Jiwa, apakah tertawa masih bisa disebut sehat?
Adalah seorang pria yang bekerja di suatu instansi perusahaan dibidang rekayasa kecerdasan generasi muda. Sebut saja Bunaya (Bukan Nama Sebenarnya) pendidikannya boleh dibilang tinggi, mumpuni dalam ilmu hitung dan menduduki jabatan yang tidak rendah, berkacamata pula.
Sungguh sangat beruntung bagi saya bisa berteman dengan Bunaya, tetapi siapa yang menduga bahwa ketika dalam situasi kerja, tiba-tiba terdengar tawanya yang menggema di seantero ruangan dalam kantor tersebut. Saya bukan mau bilang kalau orang yang pinter selalu berkacamata ndak boleh tertawa sampai ngguling-ngguling di lantai seperti ini
. Tertawa adalah Hak Asasi, siapa saja boleh tertawa.
Masalahnya adalah, tertawa juga harus memperhatikan tata krama dan unggah ungguhnya, sedang dimana, berhadapan dengan siapa juga harus menjadi perhatian bagi mereka para calon tertawa. Bukan apa-apa, ini cuma menyangkut etikabanget dan tepo seliro. Bagi yang sudah mengenal mungkin wajar, tetapi bagi yang belum mengenal bukan hal yang mustahal kalau yang tertawa keras-keras tadi di cap kurang sopan. Parahny, ada teman saya yang lain menceritakan kalau malamnya habis dari ahli tulang karena rahang mulutnya geser setelah tertawa terbahak-bahak. Cukup menantang bukan?
Buanglah tawa pada tempatnya, jika sedang berada di jogja sempatkan untuk panen tawa bersama kami. Atau mau paket yang lebih parah, rasakan sensasi terpingkal-pingkal di tempat kopdar termewah Hotel Indonesia sambil menahan (maaf) kencing, karena toiletnya cukup jauh. Hanya 1x dalam seminggu Setiap jumat malam, terlalu sayang untuk dilewatkan. Disana saya juga tertawa, sampai terbahak-bahak bahkan. Kalau di dua tempat tersebut (juminten dan BHI) anda belum juga mendapatkan kenikmatan dalam tertawa, sangat saya anjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter-dokter kesayangan anda.
Kesimpulannya adalah, tertawa terbahak-bahak hukumnya boleh-boleh saja dan tidak ada hukuman bahkan ketika hidup di jaman orde baru, cuma rasa-rasanya kok ndak etis kalau tertawa diruangan kerja yang gaungnya sampai ke sudut-sudut bangunan gedung (termasuk mereka yang tertawa di depan layar komputer karena sebab yang tidak jelas). Tertawalah secukupnya, dan lebihnya cukup dibatin saja.

