Posts tagged as:

83

Tahun baru lagi, perlu resolusi?

by annots on January 9, 2008

Menginjak hari ke-9 di tahun 2008 ini kita bertemu dengan pergantian tahun versi kalender komariyah atau penanggalan berdasarkan perputaran bulan mengitari bumi.

Bagi orang yang awam seperti saya, saya ndak tau apakah jatuhnya pergantian tahun yang biasa disebut Tahun Hijriyah ini juga muncul dua versi ada yang memperingati hari ini atau besok seperti dua hari besar yang telah dirayakan umat muslim di Indonesia beberapa tahun lalu.

Apa perlu ritual khusus?

Menurut saya kok acara-acara spesial dalam menyambut atau merayakan pergantian tahun adalah hal yang cinderung berfoya-foya atau kalau bukan itu lebih mengharapkan sesuatu dengan melakukan ritual-ritual khusus (di luar kekuatan Tuhan). Mulai hari ini, saya yakin tempat-tempat yang diyakini angker atau memiliki kekuatan magis mulai rame di datangi banyak orang. Seperti kalau di Jogjakarta, dengan pergi ke pantai-pantai tertentu, pemakaman, atau dengan berendam ditempat-tempat keramat.

Kepergian saya ke pantai Pandansari beberapa hari yang lalu bukan untuk mencari wangsit di akhir tahun 1428 H tetapi lebih untuk menikmati sunset.

Bukannya saya tidak setuju, tetapi lebih karena saya menyesuaikan dengan komunitas di sekitar saya. Tapi yang perlu ditekankan disini adalah bergantinya tahun adalah hal yang biasa seperti bergantinya bulan dengan bulan berikutnya, hari dengan hari berikutnya. Seperti datangnya siang setelah malam dengan pagi yang membatasi keduanya.

Kalau ditilik lagi, bukankah tanpa pergantian detik ke menit, menit menjadi jam pergantian tahun tidak pernah ada? Jadi mana yang seharusnya kita renungkan? Pergantian tahun atau bergantinya detik ke detik berikutnya? Jadi kalau bisa disiapkan sebelum bergantinya malam dengan siang mengapa resolusi hanya dicanangkan di awal tahun?

Anak-anak berendam di depan Masjid Agung Kota Gede (masjid tertua di Yogyakarta), saya yakin mereka tidak sedang melakukan ritual khusus menjelang 1 Suro (1 Muharam–jawa).

{ 18 comments }

Tafsir

by annots on January 9, 2008

P.S : Pembaca yang budiman, tulisan berikut memerlukan tafsir tentang inti tulisan ini, lha wong saya juga bingung ini tulisan apa :D
Jujur saja dulu saya termasuk orang yang pernah bermimpi kemudian mencari tafsir makna dari mimpi yang dialaminya ke buku primbon atau yang lebih canggih. Dan sebagai konsekuensi karena saya manusia biasa yang tidak memiliki daya linuwih (kelebihan) bisa saja tafsir yang diberikan ada yang sama ada pula yang berbeda, itu sudah biasa tinggal mantep sama yang mana, habis perkara.

Tapi bukan tafsir mimpi atau kitab suatu agama yang ingin saya bahas kali ini. Saya juga bukan ingin menjawab tafsir mimpi tetangga meja yang katanya termasuk mimpi aneh.

Secara pribadi saya menerjemahkan secara bebas, tafsir adalah pemberian makna pada sesuatu yang masih memberikan teka-teki dengan maksud untuk memperjelas.

Seperti waktu saya menyusuri heritage yang ada di Kota Gede bersama presiden beserta juru sungging dari negeri antah barantah Ndoyokarto Hadiningrat kami menemukan sebuah warung makan yang memaksa calon pembeli (termasuk yang sedang ndoyok seperti kami) untuk berdebat disebelah utara Situs Watu Gilang yang legendaris bagi kerajaan Mataram Islam itu.

Apa tafsir yang anda berikan? Sebenarnya tinggal bagaimana cara bacanya saja. Warung Yen Selo So’ Tutup (Kalau luang kadang tutup) atau Warung Yen Seloso Tutup (kalau hari Selasa tutup)? Sebagai petunjuk waktu kami kesana hari Sabtu siang dan ditemukan warung dalam kondisi tertutup dan tentu saja acara isi perut dan icip-icip batal dengan suksesnya.

{ 15 comments }