Menginjak hari ke-9 di tahun 2008 ini kita bertemu dengan pergantian tahun versi kalender komariyah atau penanggalan berdasarkan perputaran bulan mengitari bumi.
Bagi orang yang awam seperti saya, saya ndak tau apakah jatuhnya pergantian tahun yang biasa disebut Tahun Hijriyah ini juga muncul dua versi ada yang memperingati hari ini atau besok seperti dua hari besar yang telah dirayakan umat muslim di Indonesia beberapa tahun lalu.
Apa perlu ritual khusus?
Menurut saya kok acara-acara spesial dalam menyambut atau merayakan pergantian tahun adalah hal yang cinderung berfoya-foya atau kalau bukan itu lebih mengharapkan sesuatu dengan melakukan ritual-ritual khusus (di luar kekuatan Tuhan). Mulai hari ini, saya yakin tempat-tempat yang diyakini angker atau memiliki kekuatan magis mulai rame di datangi banyak orang. Seperti kalau di Jogjakarta, dengan pergi ke pantai-pantai tertentu, pemakaman, atau dengan berendam ditempat-tempat keramat.

Kepergian saya ke pantai Pandansari beberapa hari yang lalu bukan untuk mencari wangsit di akhir tahun 1428 H tetapi lebih untuk menikmati sunset.
Bukannya saya tidak setuju, tetapi lebih karena saya menyesuaikan dengan komunitas di sekitar saya. Tapi yang perlu ditekankan disini adalah bergantinya tahun adalah hal yang biasa seperti bergantinya bulan dengan bulan berikutnya, hari dengan hari berikutnya. Seperti datangnya siang setelah malam dengan pagi yang membatasi keduanya.
Kalau ditilik lagi, bukankah tanpa pergantian detik ke menit, menit menjadi jam pergantian tahun tidak pernah ada? Jadi mana yang seharusnya kita renungkan? Pergantian tahun atau bergantinya detik ke detik berikutnya? Jadi kalau bisa disiapkan sebelum bergantinya malam dengan siang mengapa resolusi hanya dicanangkan di awal tahun?

Anak-anak berendam di depan Masjid Agung Kota Gede (masjid tertua di Yogyakarta), saya yakin mereka tidak sedang melakukan ritual khusus menjelang 1 Suro (1 Muharam–jawa).

