Posts tagged as:

61

Maaf, gelas saya penuh

by annots on January 24, 2008

Seperti memori dalam sebuah komputer yang memiliki kapasitas terbatas, begitu juga kita manusia yang dikarunia sebuah organ yang juga berfungsi sebagai penyimpan memori bernama “otak”.

Seperti komputer yang kadang sampai hank, tidak dapat digerakan kursornya karena memori penuh demikian juga manusia.  Beban yang begitu berat dan banyak membuat pikiran saya sedikit kacau.  Mungkin ini kesalahan saya karena saya menganggap apa yang sudah menjadi kewajiban saya sebagai beban. 

Niatnya saya enjoy dan berfikir secara slow, tetapi tidak bisa jika tugas datang bertubi-tubi dan tidak sedikit berakibat pada tekanan mental yang teramat sangat dahsyat. 

Bagaikan gelas, saat ini saya adalah gelas yang hampir terisi penuh dan hanya menyisakan sedikit ruang bagi saya.  Saya pingin melepaskan isi gelas ini, tetapi apa daya, tidak ada gelas lain  yang mau diajak berbagi.  Saya tidak mau menjadi gelas yang serakah dengan menampung “isi” terlalu banyak, sampai luber yang isinya membasahi mana-mana, mubazir katanya.

Kalau gelas saya isinya es cendol, air teh atau sekedar air putih itu nikmat sekali, tetapi bagaimana jika isinya pekerjaan dan tugas kuliah bir yang sangat memabukkan.

Saya ingin melepas tahta tanggung jawab ini, tetapi kepada siapa saya musti mengadu untuk melapaskannya?  Saya rela meninggalkan kursi empuk dengan banjir bandwith  ini asalkan saya bisa sedikit mengosongkan gelas yang hampir penuh ini.   Apa saya harus berpindah ke meja sebelah?  Siapa tahu disana saya bisa menjadi gelas yang setengah kosong dan bisa lebih menikmati hidup, meskipun akibatnya saya harus menyesuaikan dengan lingkungan baru.

Malam ini, saya musti berangkat ke “kawah condrodimuko” niatnya untuk menimba ilmu.   Semoga tidak ada yang mengisi gelas saya lagi dengan cairan berwarna putih yang terlihat seperti susu tetapi ternyata bukan, hanya air tajin (air yang ada pada saat menanak nasi) yang jauh dari bergizi katanya.  Ya, saya masih terbebani tugas-tugas akhir semester.  Kalau ada mahasiswa yang bilang, dosen adalah penentu nasibnya, mungkin saya berbisik mengamini meskipun di hati saya sangat mengamini penentu segalanya adalah Dia Yang Maha Berkehendak.

Maaf, gelas saya penuh. Ke gelas yang lain saja. Duh Gusti, paringono kawulo kesabaran, jembar atine lan dowo ususe. Amin.

{ 25 comments }