Posts tagged as:

51

Ngintip dapur TV lokal

by annots on December 13, 2007

Tadi siang, saya berkesempatan blusukan ke dapur salah satu televisi lokal yang berpusat di Yogyakarta. Blusukan kali ini masih dalam rangka kunjungan media yang diselenggarakan oleh LPJB (Lembaga Pelatihan Jurnalistik Bernas). Kebetulan saya di-dapuk untuk mengikuti pelatihan jurnalistik oleh atasan ditempat saya menghabiskan waktu untuk blogwalking bekerja.

Sebenarnya sudah sejak September atau semenjak saya didaulat sebagai wartawan kagetan™ sudah ada di komunitas LPJB, tetapi dua acara terakhir ini membuat saya lebih antusias dari pada saya harus duduk di belakang meja dan mendengarkan mentor yang berdiri di depan kelas.

Usut punya usut, ternyata efek dari aktifitas jeng-jeng yang di-doktrin-kan ke saya oleh pakar jeng-jeng beserta jurkam (juru kameranya) telah berhasil merasuki hingga alam bawah sadar saya. Istilah ndoyok atau jalan-jalan dan blusukan ke tempat-tempat yang sebelumnya sudah atau belumpernah dikunjungi makin beken saja di otak saya.

Kembali ke TV lokal tadi, setiba di kantor redaksi kami disambut senyum manis wanita yang sangat casual dan tidak mboseni baik dari sisi penampilan ataupun gaya bicaranya. Mbak Widi namanya. Dari mbak ini juga saya jadi tau pilar yang dijunjung dan diangkat sebagai konten utama tv tersebut: budaya, pariwisata dan pendidikan.

Dari tiga pilar tersebutlah saya menitipkan pesan untuk disampaikan ke direktur dan komisaris jangan seperti tv yang katanya TV Pendidikan Indonesia tetapi berubah haluan ke jalur siaran yang hampir tidak ada bau-bau pendidikan di jadwal acaranya. Bisa jadi karena mengkuti trend yang diangkat oleh tv swasta yang lain sehingga kebijakan pimpinan untuk banting stir ke acara-acara “seleb instan”, musik dangdut, sinetron, dll.

Jogja TV

Sejujurnya saya lebih suka acara telivisi yang lebih banyak mengangkat budaya ketimbang kontes “seleb instan” lebih-lebih sinetron -meskipun dulu saya sempat gandrung sinetron Tersanjung 1 - till drop, Tersayang, Tercinta dan Ter-ter yang lain- yang semakin lama semakin membodohi penonton dan njelehi.

Yah kalo tv di ibaratkan blogger ya seperti kang matriphe yang istikomah dengan mengangkat kearifan budaya Indonesia melalui candi, makanan, dll.  Jangan-jangan kang Zam mau bikin jengjengTV juga? :lol:

Dan akhirnya terkuak sudah dapur yang memproduksi dan menghias chanel #12 layar tv saya. Di TV kang mas mbak yu sekalian, stasiun tv yang ini ada di nomer berapa?

{ 34 comments }

nJawani

by annots on December 12, 2007

Kultur masyarakat jawa yang kental dengan mengedepankan sopan santun dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari mungkin sudah jarang bisa kita temui dalam realita perjalanan hidup kita saat ini, baik dalam cara berbusana maupun berbicara.

Memang sedemikian dahsyatnya penjajahan kultur yang mengatasnamakan modis, gaul, dsb yang mampu mengikis budaya masyarakat Indonesia, yang katanya budaya timur. Entah disengaja atau tidak produk fashion yang beredar saat ini berawal dari salah design, kegagalan produksi karena kurang bahan atau memang ada unsur alasan yang lain?

Filosofi “ajining diri soko ing lathi, ajining rogo soko busono” yang dulu sering dituturkan oleh eyang dan bapak saya hanya bisa dikenang dan terkesan seperti slogan semata. Ada orang yang masih menjunjung tinggi budaya jawa, tetapi lebih banyak yang perlahan mulai melirik dan bergeser ke budaya atau pura-pura kebarat-baratan.

Berpakaian ala kadarnya

Berpakaian ala kadarnya, bukan berarti harus pake baju punya adiknya seadanya. Menurut hemat saya baju yang di pajang di butik (yang saya kira adalah deretan pakaian anak-anak itu) ternyata harganya ga semurah karena penghematan bahannya. Jadi kalo dipandang dari segi penghematan uang sdepertinya kok ndak masuk akal.

Cobalah kita tengok jauh ke belakang, kalo dilihat apakah baju simbahnya eyang buyut kita (=kebaya) tidak kalah seksinya ketimbang baju-baju yang irit bahan itu kan? Atau kalau mau lebih seksi dari tank top gunakan saja kemben, semuanya lebih njawani bukan. Semua malu ketika harus menggunakan, kecuali terpaksa untuk acara wisuda takut alasan yang klasik takut dibilang kuno, ga’ modis, katrok.

Jawa akankah tenggelam?

Semalam, saya ngobrol dengan sodara teman saya yang kebetulan masih duduk dibangku SMU. Dia menceritakan bahwa hari ini ujian Bahasa Jawa, dan dia mengeluh kalau dia takut nilainya jeblok karena dia tidak fasih berbahasa jawa.

Q : “Boro-boro mas nulis aksara jawa, bahasa jawa aja aku grathul-grathul”
A : “Dulu aku juga pernah bisa nulis aksara jawa, tapi sekarang dah lupa :D
Q : “Wo lah, besok pas ujian kalo aku ga bisa aku sms kamu yo mas”
A : “Oh ya gpp, tapi kayaknya keypad HP ku ga support aksara jawa deh :lol:
Q : “Alesan… !@#$%^”

Sepenggal dialog saya semalam semakin jelas menggambarkan betapa budaya jawa (Indonesia juga) bisa hilang di tanah air dan oleh orang yang hidup di dalamnya. Jadi tidak heran kalau kelak kita juga ribut-ribut ada yang mengklaim aksara java jawa sebagai warisan budaya negara lain.

Kalau sudah begini semua sibuk menyalahkan dan mencari kambing hitam untuk berkurban tgl 20 bulan ini. Sodara mau menyalahkan siapa?

{ 12 comments }