Roda yang berputar menggambarkan bahwa kehidupan ini masih harus terus dilanjutkan dengan hiruk pikuk laju adrenalin di dalam tubuh. Riuh persiapan hanya untuk menyambut kedatangan sang fajar di sebuah lembaran yang baru, dengan harapan yang baru dan semangat yang baru.
Saya yang masih duduk terdiam disudut kamar, memikirkan apa yang musti dikerjakan untuk mengahadapi datangnya sebuah “buku” yang masih bersih, akankah saya kotori lagi dengan kisah kehidupan yang berantakan penuh noda hitam?
Selayaknya “buku baru” ini kita sambut dengan sebuah perubahan, perubahan yang lebih baik tentunya. Siapkan pena dan tulislah kisah hidupmu dengan seindah mungkin, dan jika ada goresan yang menodai lembaran buku itu, segera hapus dan tuliskan “Akankah saya mengulanginya lagi…” layaknya “Manusia bodoh”.
“366 lembaran” yang menyambut kita esok pagi, adalah harapan. Harapan untuk menjadi lebih baik dari tahun dari sebelumnya.
Kawan, mari berbenah bersama. Harapan tanpa usaha is nothing bukan? Semoga hujan yang mengguyur Jogja dipenghujung tahun 2007 ini mampu membasahi hati yang sudah kering ini untuk menyambut hati yang bersemi esok pagi. Padamnya listrik sore ini, semoga tidak memadamkan semangat kita untuk berjuang menjadi makhluk yang berguna bagi lingkungan dan tidak lagi selalu menyalahkan “Global Warming” dalam berbagai bencana yang menimpa di negeri ini tetapi salahkan oknum dibalik “Global Warming“.
Jika Candi Prambanan saja bersolek untuk menyambut datangnya tahun baru, mengapa hati kita tidak?
Selamat Tahun Baru 2008, semoga sukses selalu dalam genggaman kita semua.


