Candu candi

by annots on July 3, 2008

Hasrat itu tiba-tiba muncul lagi.  Entah sebagai wujud kerinduan, atau pengejawantahan dari pencarian penawar rasa letih yang sudah meradang dalam jiwa. Sore itu, dengan sedikit paksaan dari keponakan yang jauh-jauh datang dari Jakarta, ingin sekali jalan-jalan sore ke Candi Prambanan.   Namun karena hari sudah sore, kupilih candi yang tidak memungut retribusi (paling tidak untuk warga setempat seperti saya) dan memang karena pintu masuk tidak dikunci. 

Melihat Candi yang berdiri kokoh di hadapan saya, saya merasa ada yang beda dalam jalan-jalan kali ini.  Tiba-tiba saya teringat akhir tahun yang lalu, dimana saya masih bisa bersama seseorang yang (paling tidak) lebih paham tentang percandian.  Ialah Candi Ijo, candi terakhir yang terkunjungi bersama Zam . 

Ndoyok, begitu bloger Jogja mengatakan, yang dulu pernah saya ikuti bersama Zam, Didit dan Cya tidak dapat dilupakan begitu saja.  Seperti candu yang sudah merasuk dalam jiwa, aktifitas itu tak ubahnya menjadi kegiatan yang bukan biasa saja. Sepeninggal mereka ke ibu kota, aktifitas ndoyok pun hampir tak pernah saya lakukan. 

Berkeliling di area candi yang masih dalam kondisi rehabilitasi pasca gempa, saya hanya clingak clinguk bak anak ayam kehilangan induknya.  Dulu ketika masih ada Zam, setiap detil relief yang ada di dinding candi dia jelaskan sekenanya, meskipun tidak semua terekam dengan baik dalam isi kepala saya. 

Senja menggantung di atas Candi Sewu

Dan saya pun terpaksa harus mengakhiri perjalanan saya sore itu, dengan bergumam “Kota Bogor Jakarta ternyata lebih indah dari pada candi-candi ini”.

Sesekali saya pun membidik senja yang menggantung di Candi Sewu sore itu, sebagai penawarnya. 

Menulis yang berbau candi, bukan bermaksud untuk meladang di lahan orang (baca: blog Zam), namun hanya sedikit mencoba membangkitkan review candi yang kini tidak pernah ada yang menuliskannya. 

{ 25 comments }

Kebangkitan Rasional

by annots on May 20, 2008

100 tahun kebangkitan nasional sama dengan 100 kali bangsa ini mencoba bangkit dari segala masalah yang dihadapinya. Dan selama itu pula kebijakan persoalan negara (baca: pemerintah) yang tak selalu sepaham dengan arus bawah, atau lebih tepatnya hanya sepaham dengan beberapa gelintir orang yang berkepentingan saja.

Mengungkit kebijakan pemerintah selama ini, sama dengan membuka luka lama rakyat yang merindukan hidup sejahtera.

Memperingati 100 tahun kebangkitan nasional dengan diiringi “nyanyian” rencana kenaikan harga BBM akan menyimpulkan bahwa 100 tahun kebangkitan nasional ditindaklanjuti pula dengan kebangkitan harga BBM. Bantuan Langsung Tunai (BLT), solusi dari pemerintah cukup membantu, namun apakah ini akan berjalan untuk selamanya? Atau sebagai pemanis di awal kenaikan saja?

Tidak kah kita mengingat, menjadi orang miskin sangat mudah di negari ini sehingga hanya bermodal laporan “Dia itu miskin” dari pemerintah desa yang notabene adalah orang dekat pun lantas bisa mendapatkan kupon untuk mengambil “jatah” yang sepantasnya diterimakan meraka yang “benar-benar” membutuhkannya.

Pemerintah, semestinya memberikan sebuah solusi secara continue, bukan sesaat seperti BLT. Seperti kalimat bijak “Memberikan kail akan lebih baik daripada memberikan ikan” mungkin musti diterapkan pemerintah.

Pemerintah masih saja mengikuti nasihat para mentor pengembangan diri “Bangkitlah satu kali lebih banyak dari pada kegagalan Anda, niscaya akan sampailah kita pada masa kejayaan”. Kebangkitan sejati yang di butuhkan rakyat yang lebih tepat mungkin adalah Kebangkitan (yang) Rasional yang dimotori Pemerintah bukan Kebangkitan Kolonial.

Akhirnya, selamat memperingati menindaklanjuti Hari Kebangkitan Nasional, jayalah negeriku.

{ 21 comments }

Sejenak diam

by annots on May 13, 2008

Kepada yang mulia abdi negara dan atau petinggi perusahaan, satu hal yang menjadi pertanyaan kami untuk dipikirkan sebelum tidur.  Mengapa ketika melihat film Ayat-ayat cinta sampai meneteskan air mata sedangkan tidak ketika melihat rakyat dan atau bawahan menderita?

Diam lebih baik dari pada tak bicara

Ketika kata tak lagi bermakna, mengapa tidak mencoba diam saja. Paling tidak untuk sejenak menahan untaian janji palsu (menjelang pemilu).

PS: Terkhusus untuk Jawa Tengah, Indonesia dan saya sendiri

{ 27 comments }