From the category archives:

Pahlawan

Menanti kembalinya sang pendekar

by annots on March 18, 2008

Pendekar, ya pendekar, bukan pendek kekar. Melihat kondisi Indonesia
saat ini, seperti kembali pada jaman ketika kita dijajah oleh Kolonial Belanda. Rakyat ditindas, diperas dengan pajak yang tinggi, kelaparan juga terjadi dimana-mana. Mau tidak mau, suka tidak suka itulah yang terjadi saat itu.

Si Pitung Beruntunglah dulu ada orang-orang yang mau peduli terhadap kondisi wong cilik disekitarnya. Taruhlah sebagai contoh Si Pitung. Sepak terjang mereka kadang dinilai merugikan orang lain.

Si Pitung selain jago silat dia juga rajin belajar ngaji. Namun dia juga pernah berkali-kali merampok rumah Tauke dan ruman Tuan Tanah Kaya dibantu dua sahabatnya si Rais dan Jii. Dosa? Entahlah, tapi hasil rampokannya dia bagikan pada rakyat miskin. Tak jarang di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakkannya sepikul beras hasil rampokannya.

Lain Si Pitung lain pula Raden Said. Raden Said yang kemudian lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga adalah sosok Si Pitung yang lain. Raden Said yang merupakan putra Tumenggung Wilatikta Adipati Tuban, merasa miris ketika melihat rakyat ditindas. Membayar upeti, padahal untuk makan saja tak ada.

Raden Said merupakan anak muda yang taat beragama dan berbakti kepada orang tua namun karena melihat banyak ketimpangan disekelilingnya musim kemarau panjang dan kelaparan membuat rakyat tersiksa, hatinya berontak, pada malam hari sering dia mengambil hasil bumi di gudang kadipaten untuk dibagikan kepada rakyat yang memang lebih membutuhkan. Dan sampai akhirnya diusir dari kadipaten oleh ibunya karena ketahuan sedang mencuri di gudang kemudian bertemu dengan gurunya Sunan Bonang.

Meski di cap sebagai perampok atau pencuri, bagi rakyat kecil si Pitung maupun Raden Said adalah sosok pembela rakyat kecil. Seperti kita (bloger) yang konon dicap sebagai penipu, ya tidak apa-apa. Paling tidak mari kita membantu mensukseskan rencana mulia dari sahabat kita.

Bukannya mau menyebut bloger sebagai pendekar, namun paling tidak bloger harusnya memiliki semangat juang dari Si Pitung dan Raden Said. Tidak harus dengan merampok, tidak harus dengan mencuri, apalagi harus menjadi seorang penipu. Bagaimana caranya? Saya kutip saja dari blog pemrakarsa:

Bagi yang ingin menyumbang, dan mohon maaf karena belum ada rekening khusus maka akan mengunakan nomor rekening pribadiku. Setiap penyumbang diwajib menelepon atau sms ke: 08128043766, dengan memberitahukan nama dan berapa dana yang ingin disumbangkan. Agar dana yang masuk bisa dicek dan dipublish sebagai pertanggungjawaban.

Batas waktu seminggu terhitung dari sekarang. Terima kasih sebelumnya. Sekali lagi, Maaf, ini bukanlah keharusan. Tapi sukarela. Sekecil apapun yang diberi akan sangat besar artinya untuk saudara-saudara kita yang sedang menunggu di sana.

no rekening:
118-00-0577625-6
Tjhia Fui Ha
Bank Mandiri
KPC. Puri Indah

Hidup Blogger!!!

STOP Kelaparan IndonesiaRoda selalu berputar, jangan sampai kejadian seperti Bencana Kelaparan terulang di negeri kita. Bagaikan ayam mati di lumbung padi, mungkin itu yang lebih pantas jika kelak masih ada kejadian serupa.

Kali ini saya (bloger) sedang tidak menipu, tapi memang demikianlah fakta kondisi di Indonesia menghadapi Visit Indonesia Year 2008. Apa demikian caranya Pemerintah mencoba menarik simpati turis mancanegara untuk datang ke Indonesia? Lihat saja lebih menarik mengurusi BLBI dan Gubernur Bank Indonesia dari pada mengurusi kelaparan di negeri ini. Ah picik sekali pemikiran saya, maafkan.

***

Gambar dari jagoan.or.id dan tikabanget.com

{ 33 comments }

Racun Dalam Sebungkus Daun

by annots on November 10, 2007

Racuni tubuhmu sendiri, jangan racuni tubuhku! (Ardifa.com)

Saya sepakat dengan sepotong kalimat di atas. Kalimat dari seorang ibu yang benar-benar membenci asap rokok dan penyayang hamster itu mengingatkan saya pada teman yang terpaksa istirahat dari dunia blog karena kondisi fakir bandwith. Dalam sebuah komennya di posting saya yang lain.

Jujur, Simbokku udach 30 tahunan kerja neng pabrik tembako & kadang2 Bapak juga nandur mbako(tembakau–annots), tapi kita bukan perokok…. JAdi ya…… dapet berkah dari orang ngerokok….

Disatu sisi rokok membuat kita benci karena memang efeknya sangat merugikan kesehatan bagi perokok aktif maupun pasif. Ketika beberapa dari kita mencoba untuk mendapatkan hak atas udara bersih dengan kampanye anti rokok, disisi lain mereka yang membanting tulang di perusahaan rokok seperti ibu teman saya atau petani yang mengharap tembakaunya dapat laku dengan harga tinggi merupakan pahlawan bagi keluarga mereka. Karena dari hasil dari sanalah yang bisa menghidupi, menyekolahkan saudara-saudara kita.

Memang susah seperti ketika Belanda menjajah Indonesia. Ketika itu kita menganggap Herman Willem Daendels adalah penjajah, tetapi di negaranya sana (Belanda), bisa jadi dia adalah pahlawan seperti kita manganggap pahlawan Pak Dirman (Pangsar Sudirman), Diponegoro, Bung Tomo, dkk.

Rokok memang penjajah bagi orang yang menginginkan haknya uadara bersih (termasuk saya), tapi rokok juga disebut sebagai pahlawan bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada panen tembakau.

Ah siapapun penjajah dan pahlawan dalam hal rokok merokok, saya ucapkan selamat hari pahlawan untuk Indonesia.

Nb: skrinsyut by jedarokok

{ 30 comments }