Tolok ukur dari kedewasaan bukan hanya dari semakin bertambah banyaknya umur atau datangnya uban yang sudah menggelayut di kepala. Lantas, bagaimana cara mengetahui seseorang dewasa atau tidak? Jelas sangat sulit kalo hanya melihat sepintas saja.
Orang-orang yang merasa dewasa, lantas mengiyakan apa yang dimauinya dengan dalih “Sayakan sudah dewasa”. Kejadian seperti ini dulu biasanya banyak dialami ABG yang menunggu datangnya usia 17 tahun (sweet seventeen atau apalah namanya) biar ndak terbentur soal perijinan dari orang tua. Jelas ijin pacaran tentunya, selain ijin yang membatasi minimal 17 tahun lainnya. Lantas bagaimana dengan ABG sekarang? Ya kita bisa lihat kunci jawabannya di sekitar kita.
Status “Dewasa” sering menjadi sasaran, terget atau mangsa pasar pihak produsen. Saya tidak akan menyebutkan produk-produk apa saja yang membubuhkan label “Khusus Dewasa” atau “17+” dalam setiap kemasan produknya.
Saya hanya ingin menginformasikan tentang apa yang saya lihat kemarin sore di sebuah jalan di bilangan Papringan Yogyakarta. Ya sebuah iklan yang ditempel di gapura masuk, tentang adanya produk baru di Yogyakarta. Mungkin bagi yang sudah bosan dengan tontonan tv jaman sekarang dan sudah mengaku dewasa bisa pindah ke JOGJA dan mencoba produk ini.

Merupakan satu alternatif yang benar-benar tidak saya bayangkan bisa hadir di Jogja yang konon adalah kota yaang kaya dengan kultur budaya jawa yang menjunjung tinggi nilai sopan santun.
Lantas, saya bertanya “Sudahkah produk ini masuk di kota Anda?”.





