by annots on September 27, 2008
Anda pernah melihat iklan salah satu televisi swasta Indonesia yang mengambil hikmah tentang kertas, pensil dan karet penghapus?
Kertas ibarat lembaran kehidupan, yang pada awalnya bersih ketika diciptakan. Pensil diciptakan untuk menggoreskan sesuatu bisa tulisan dan atau gambar. Jika demikian maka, pensil adalah ibarat apa yang kita lakukan untuk mengisi lembaran kehidupan tadi.
Sepandai apa pun manusia, pastilah dia pernah menggoreskan sesuatu di atas kertas tadi, bisa karena sengaja atau memang tak sengaja bekas ujung pensil tercoret di atas kertas. Maka untuk menghilangkannya, manusia menciptakan karet penghapus untuk membersihkannya.
Ibadah puasa hampir selesai kita jalankan. Suatu ibadah yang pada intinya melatih kita untuk bersabar dan belajar merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita yang kurang beruntung.

Sesempurna apa pun manusia diciptakan-Nya, pun sesekali dia melakukan kesalahan. Mohon kerelaannya untuk memaafkan segala kesalahan yang telah diperbuat. Harapannya semoga “kertas” kita, bersih dari goresan-goresan yang tidak diinginkan.
Saat tidak bisa bertatap muka, bolehlah tulisan ini yang mewakili sebagai pengganti diri.
Wassalam,
by annots on September 22, 2008
Mudik™ - Satu lagi yang tidak bisa ditemui di negara-negara lain yakni tradisi pulang kampung masal menjelang lebaran. Seperti tak mengenal strata, derajat seseorang gejolak mudik menyerang siapa saja yang jauh dari daerah asal. Besarnya rasa rindu akan kampung halaman, membuat para mudiker (saya sebut demikian) rela membelah jalan raya dengan cara apapun, dan berapapun harganya. Kenaikan harga tiket, atau pas kedapetan apes harus bertransaksi dengan calo. Baik mengendara sepeda motor atau bajaj pun dilakoni mudiker dengan harapan dapat merayakan lebaran di rumah bersama keluarga nantinya.
Mudik™ selalu demikian dari tahun ketahun, selalu ada keterlambatan jadwal kereta, selalu ada kemacetan di sepanjang Pantura dan selalu ada haru ketika bisa bertemu dengan keluarga. Satu lagi selalu ada arus Balik setelah lebaran usai.
Bagi daerah yang dituju, mudik adalah salah satu bagian dari siklus ekonomi. Peredaran uang tidak hanya berkutat di Ibu kota, namun juga di daerah. Tingkat belanja masyarakat yang tinggi dan belum lagi tradisi memberikan sangu yang biasanya dinantikan banyak anak kecil kecuali baju baru ketika lebaran tiba menyebabkan uang ibukota berputar di daerah.
Tak tanggung-tanggung, uang yang dibawa pun masih anget seperti baru saja dipotong dan mempunyai bau yang khas. Dulu jaman kecil saya, sebelum menggunakan uang yang masih “kaku” itu, saya musti melipat-lipat, meremas-remas supaya nantinya ditangan orang lain, uang tersebut sudah dalam kondisi lecek.
Mudik™, tak sekedar mengisi liburan, menikmati THR dan mengambil cuti perusahaan. Apalagi hanya sekedar untuk mengenakan baju baru, atau pamer HP canggih keluaran terbaru yang baru saja dibeli di ibukota. Tentu lebih mulia dari itu semua.
Mudik™ tentu saja merupakan berkah bagi banyak orang yang melakukannya, namun demikian tak sedikit mereka yang tak dapat berkumpul dengan keluarga di saat hari lebaran tiba.
Saya sendiri lebih menikmati mudik dengan bersepada motor, dan saya melakukannya setiap hari. Tentu bukan karena saya banyak uang lantas saya bisa ngetan-ngulon, namun lebih karena jarak antara rumah dan tempat kerja yang relatif dekat meski sudah antar kota bahkan antar propinsi.
Akhirnya, selamat menikmati perjalanan mudik bagi anda yang merayakan ritual mudik.