Memasuki bulan Agustus, seperti tahun-tahun sebelumnya penjual bendera bertebaran. Produk iklan di berbagai media juga berbau patriotik ketika memasuki bulan ini.
Semua bersolek menyambut hari kemerdekaan. Lampu-lampu hias, bendera dan umbul-umbul lainnya.
Jika ditilik mendalam, berapa anggaran yang sudah dibelanjakan mulai dari keluarga hingga negara hanya untuk sekedar membeli bendera, umbul-umbul atau lampu hias. Oke lah, untuk umbul-umbul, bendera dan lampu hias adalah sisa tahun kemarin. Tidak ada belanja memang untuk itu, tapi untuk pengadaan bambu dan sebagainya? Bagaimana?
Bagi beberapa orang, bulan agustus adalah bulan yang bisa diproyekkan. Pengadaan atribut untuk memeriahkan hari kemerdekaan, atau hanya sekedar memoles gedung dengan “warna” baru. Warna tak harus “kuning” memang, namun tetap saja tembok gedung “dipaksa” berganti warna meskipun dengan warna yang sama dengan sebelumnya.
Panggung hiburan dengan sederatan artis lokal maupun ibu kota, setidaknya akan menjadi sederatan tontonan bagi warga. Dan biasanya, tidak ketinggalan pesta kembang api menjadi puncak acara. Pernahkah kita menghitung, berapa mega watt yang dibutuhkan untuk menerangi setiap acara tersebut? Ya ga masalah, kan pake jenset. Jenset tetap saja masih menggunakan BBM bukan?
Kini, bendera merah putih berkibar di setiap rumah dan sepanjang jalan. Seperti tak mau kalah dengan mulai merebaknya bendera partai politik yang sudah mulai dipajang. Malam harinya, lampu hias mulai berkelap-kelip bak bintang di langit malam. Miris memang ketika listrik sudah muali byar pet karena pasokan bahan bakar (yang katanya) telat, namun beban bertambah dengan semarak lampu hias.
Lampus hias, menambah indah? Menurut saya kok tidak, malah terkesan berlebihan. Bagaimana dengan tempat saya? Cukup dengan bendera tahun lalu dan bambu dari tetangga, tanpa lampu hias atau pun pesta kembang api.
Kemerdekaan yang sebenarnya belum terasakan oleh banyak saudara kita di pelosok daerah. Sebuah kalimat yang saya dapatkan dari situs PLN wilayah Jawa Tengah:
Hidup tanpa layanan listrik, mungkin mimpi buruk bagi kita. Namun bagi 45% penduduk Indonesia, ini kenyataan.
Seburuk-buruknya hujatan yang diterima PLN, tidak ada salahnya kalau kita ikut menghemat penggunaan listrik dari diri kita.
Beragam cara orang untuk memperingati hari kemerdekaan, bagaimana dengan anda?

{ 15 comments… read them below or add one }
besok upacara nots. .. itu cara kita memperingati kemerdekaan
lampu2 yang genit itu (kerlap kerlip :p), menurut saya memang sangat tidak perlu. cuma bikin mata saya jadi ‘ruwet’

*saya (kebetulan) memperingati 17 agustus kali ini dg jalan2 ke pantai2 selatan* (tetep pake BBM nih mas, nggak kuat klo harus jalan kaki)
Ingat kata funkshit, nots…
nyepeda nots…
yah, mungkin memang ada kalanya sedikit hura hura mas. dari pada perayaan kemerdekaan dilalui dengan sentimentil ria…
Kalo menurut saya, sebaiknya kemerdekaan diperingati dengan acara-acara amal Mas
kemerdekaan untuk kopdar! yihaaai!
lhoo kan indonesia? klo gak hura2 ya gak indonesia namanya
kalo menurut kita kemerdekaan adalah sudah bisa bangga pake kaos I LOVE RI.. itu baru merdeka…hhehehe
thanx to annot yg udah bs pake kaos kita& bagi2in stiker utk teman2 di sleman, jogja
merdeka utk jogjakarta….
hiduplahindonesiaraya!!!
saya pake bambu yang tahun lalu..

masih terawat
Ndak punya umbul-umbul, ndak punya bendera, bambu aja ndak punya. Merayakan kemerdekaan didalam hati sajah
sepakatttttttttttt
basii..!!!
ini udah september..udah puasa…maish di bahas juha 17an..!!!
blog sesat…!!!
Saia ikut upacara…
hormaaaaaaaaaaatttttt…….. graak……..
ya..ya..ya.. saya malah 17-an di KKN. asik sangat lah.. di desa gitu, lho..
Leave a Comment