Kebangkitan Rasional
100 tahun kebangkitan nasional sama dengan 100 kali bangsa ini mencoba bangkit dari segala masalah yang dihadapinya. Dan selama itu pula kebijakan persoalan negara (baca: pemerintah) yang tak selalu sepaham dengan arus bawah, atau lebih tepatnya hanya sepaham dengan beberapa gelintir orang yang berkepentingan saja.
Mengungkit kebijakan pemerintah selama ini, sama dengan membuka luka lama rakyat yang merindukan hidup sejahtera.
Memperingati 100 tahun kebangkitan nasional dengan diiringi “nyanyian” rencana kenaikan harga BBM akan menyimpulkan bahwa 100 tahun kebangkitan nasional ditindaklanjuti pula dengan kebangkitan harga BBM. Bantuan Langsung Tunai (BLT), solusi dari pemerintah cukup membantu, namun apakah ini akan berjalan untuk selamanya? Atau sebagai pemanis di awal kenaikan saja?
Tidak kah kita mengingat, menjadi orang miskin sangat mudah di negari ini sehingga hanya bermodal laporan “Dia itu miskin” dari pemerintah desa yang notabene adalah orang dekat pun lantas bisa mendapatkan kupon untuk mengambil “jatah” yang sepantasnya diterimakan meraka yang “benar-benar” membutuhkannya.
Pemerintah, semestinya memberikan sebuah solusi secara continue, bukan sesaat seperti BLT. Seperti kalimat bijak “Memberikan kail akan lebih baik daripada memberikan ikan” mungkin musti diterapkan pemerintah.
Pemerintah masih saja mengikuti nasihat para mentor pengembangan diri “Bangkitlah satu kali lebih banyak dari pada kegagalan Anda, niscaya akan sampailah kita pada masa kejayaan”. Kebangkitan sejati yang di butuhkan rakyat yang lebih tepat mungkin adalah Kebangkitan (yang) Rasional yang dimotori Pemerintah bukan Kebangkitan Kolonial.
Akhirnya, selamat memperingati menindaklanjuti Hari Kebangkitan Nasional, jayalah negeriku.
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.
Comments
sepertinya kebijakan BLT ini karena kepanikan pemerintah semata.. karena belum menemukan solusi yg efektif
peringatan kebangkitan nasional saya,..
ikut upacara di kantor,..
kantor koq gak ngasih kompensasi BBM yak?? ![]()
mari menindak lanjuti kebangkitan nasional dengan menjalankan peran kita dalam pembangungan dengan semestinya.
*opo iki..*
kata Deddy Mizwar, “Bangkit itu aku, aku untuk negeriku”, masih bisa ga ya saya berkata seperti itu, ketika nasionalisme saya sekarang tinggal sebatas kecintaan saya pada alam, budaya, kuliner dan orangnya..?
mas sampeyan dulu stm mana?
saya dulu STM 1 Jetis sekarang SMK 2 Yogyakarta lulus 1998
Maaf sebenarnya bukan tempatnya bertanya disini
gimana ya boss….emg bapak-bapak yg ngakunya pelayan rakyat nthu susah kalo mau dengerin pendapat dari akar rumput…
mereka uda enak-enakan di sana…
Mahasiswa yang ud mati-matian membela kaum miskin malah di tuduh sama pemerintah ada yang ‘menunggangi’ di setiap aksinya…
Bukankah itu malah mengerdilkan kemurnian nurani mahasiswa…
ehh malah ditambah dipukulin sama polisi….
bukankah polisi nthu udah dilatih untuk mengendalikan emosi biar bisa mengendalikan keamanan?
Ehh malah tawuran sendiri sama mahasiswa….
makin lama saya makin ngga percaya sama pemerintah & polisi…
Kayaknya tahun depan saya GOLPUT aja deh….
Saat ini saya ngga butuh pemimpin yang moral dan akhlaknya baik ato pintar…
saya cuma butuh pemimpin yang bisa bawa negeri ini mentas dari kemiskinan…
ntar kalo masyarakat Indonesia ud madani barulah mikirin soal pemimpin yang moral dan akhlaknya baik ato cerdas…
Salam!
kalo disuruh mbahas beginian, saya manut-manut saja lah. lawong saya ndak kompeten di bidang ini kok. ya mohong mangap sengbengsar-bengsarnya.. huehehe…


mesti 100 tahun INDONESIA BISA diikuti nyanyian kenaikan harga bbm, tapi saya ingin mengucapkan SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL !!!