Wed
23
Apr
annots

Gonjang-ganjing perguruan tinggi yang membuka jurusan Pertanian sudah terasa sejak beberapa tahun terakhir. Apa pasal? Animo pedaftar untuk menjadi mahasiswa pertanian menurun drastis. Bahkan ada beberapa perguruan tinggi yang nyaris gulung tikar karena dalam satu tahun hanya ada 5 orang mahasiswa baru.

Menurut pengakuan dari beberapa anak muda yang masih mencari bangku kuliah, mereka enggan memilih jurusan Pertanian karena (sepertinya) identik dengan urusan lumpur sawah, cangkul dan bajak-membajak. Kotor, kumuh dan bisa jadi gatelen (gatal-gartal) akibat terlalu sering ke sawah dan parahnya bayang-bayang gagal panen selalu membayangi karena tidak menentunya musim di bumi dalam dekade ini.

Kenapa tidak terpikirkan, semakin habisnya tenaga ahli dibidang pertanian di Indonesia yang sudah semakin udzur dan memungkinkan untuk segera ada penggantian? Setahu saya yang awam pertanian, pertanian di perguruan tinggi tidak mengajarkan bagaimana cara mencangkul, tetapi bagaimana cara memproduksi cangkul mengolah tanah yang baik.

Lima tahun ke depan, bisa saja tenaga ahli di departemen pertanian Indonesia banyak yang masuk usia pensiun, kesempatan bagi mahasiswa pertanian untuk mengambil alih posisi. Masih minat bergabung dengan anggota PNS kan?

Artinya peminat bidang pertanian yang sedikit akan menciptakan persaingan seminimal mungkin untuk memperoleh pekerjaan. Andai saja saya memiliki waktu 48 jam per hari, saya mungkin sudah terdaftar sebagai mahasiswa pertanian.

Namun, di lain sisi di tengah kerinduan masyarakat tentang swasembada pangan, lahan pertanian semakin ciut dengan didirakannya proyek pembangunan industri. Ini yang yang sungguh sangat disayangkan. Kebijakan pemerintah tentang pengembangan lahan industri sangat memprihatinkan.

Declaimer: Tulisan ini tidak bermaksud untuk promosi atau bahkan sampai menyinggung oknum tertentu.



Yang nulis:
annots pada Wednesday, April 23rd, 2008 at 1:35 am dalam Guneman, NKRI
Selanjutnya:

16 Responses to “Persepsi anak pak tani”

  1. Goenawan Lee Says:

    Teknologi Pertanian piye?

    Terbukti gara-gara ngeblog salah satu mahasiswanya selalu menunda kelulusan!

  2. fa Says:

    karena kebanyakan anak2 muda mikirnya setelah kuliah pengen kerja kantoran, makanya bidang pertanian nggak dilirik mas. udah umum di masy kita bahwa kerja kantoran itu keliatan mentereng (padahal gaji org kantoran blum tentu lebih gede dari penjual bakso misalnya) :D
    mungkin selama anak2 muda masih doyang makan ‘gengsi’ fakultas pertanian masih akan sepi :D

  3. tukangkopi Says:

    gw juga heran. gw pribadi dulu juga nggak kepikiran tuh buat masuk pertanian. lha apa yang mo dikerjain entar? pemerintah kan sibuk cari investor di bidang lain yang sebenernya bukan keunggulan Indonesia..

  4. stey Says:

    As for me mas, saya ga milih pertanian karena saya tau betul kemampuan saya bukan disitu, lha wong saya SMA aja masuk IPS sih mas. Tapi mungkin emang negara kita sedang lupa kalau sebenarnya kita itu lebih negara agraris ketimbang negara industri, begitu juga generasi mudanya.

  5. Hedi Says:

    lagipula mereka udah tahu jumlah sawah menyusut, nanti ga ada kerjaan dong :P

  6. waterbomm Says:

    ada pelajaran gimana caranya bertani bukan di lahan pertanian ga??
    kayanya.. lahan pertaniannya dah jarang deh :D

  7. funkshit Says:

    Andai kamu punya waktu 48 sehari.. maka kamu akan terlihat seperti orang 46 pada saat berumur 23 :D:D

  8. antobilang Says:

    njrit, bakar goen!

  9. aprikot Says:

    petani disini sudah silau ama duit, berlomba2 meninggalkan pekerjaan demi mengais rejeki di proyek, mreka tdk sadar bahwa kemampuan mereka sebagai petani jauh lbh bermanfaat

    lho kok curcol ki lho

  10. bakulsempak Says:

    tapi di ugm masih banyak kok..teman saya aja ada yang disana.
    tapi ya gitu sering dipanggghil wong tani :)

  11. Donny Reza Says:

    Padahal… Indonesia sedang sangat membutuhkan inovasi dibidang pertanian :(

  12. Totok Sugianto Says:

    Pak tani udah mulai menjual sawahnya buat dibangun real estat, lha trus nanti petani yg ditanam apa ya ?? :(

  13. sawali tuhusetya Says:

    lagi2 ini sebuah ironi di sebuah negeri agraris, mas annots. negara yang sebagian besar penduduknya petani tapi generasi mudanya banyak yang ogah bersentuhan dengan dunia pertanian, hiks :mrgreen:

  14. kw Says:

    abis petani gak ada yang ngurus siii.. jadi mereka menjadi petani karena terpaksa…

    aku bisa bayangin, para petani itu yang nyangkul tanpa “passion” :)

  15. escoret Says:

    jujur,saya malah punya cita2 jd petani….

    tenan kui….

  16. Nayantaka Says:

    anto kon macuul!!!

Tinggalkan komentar:

Mumpung belum disahken Undang-Undang Anti Komen, monggo di komen saja, gratis selama masa promosi.

gong