From the monthly archives:

January 2008

Hidup Untuk Pilihan

by annots on January 23, 2008

Life is choice katanya. Tetapi pada dasarnya (kualitas) hidup ini dibangun dari hari ke hari. Takdir memang tidak bisa diubah karena itu memang sudah keputusan Yang Maha Esa, tetapi kita masih bisa mengubah nasib.

Ibarat kita berada dalam sebuah jalan bercabang yang belum pernah kita lalui. Disana ada papan petunjuk yang menunjukkan arah dan tujuan masing-masing cabang.

Ambil contoh di sekolah saya dulu ada sebuah papan petunjuk yang menurut saya kita turut menentukan nasib kehidupan bagi siapa-siapa yang pernah ada didalamnya dari papan petunjuk tersebut.

  1. Lapangan
    Tempat ini seperti pisau bermata dua. Dari segi positif lapangan adalah pusat kebugaran, dimana kita bisa berolahraga dan sekedar menyalurkan hobby. Tapi dari segi negatifnya dari lapangan ini pernah terjadi gontok-gontokan karena ada yang kalah dalam pertandingan sepakbola.
  2. UKS
    Tempat ini pada hakikatnya menjadi puskesmas-nya sekolahan, tapi apa boleh buat ketika ada yang datang bener-bener sakit, enggan masuk ruangan karena dipake tempat pacaran anak-anak yang lain. Parahnya lagi, disinilah anak-anak yang parno sama guru Kimia, Matematika atau Bahasa Inggris menyelamatkan diri dengan dalih kondisi badan yang sedang tidak enak (=sakit) :D (saya jadi inget pejabat yang mendadak sakit ketika mau diperiksa tim kejaksaan).
  3. Perpustakaan
    Sudah tidak usah diragukan lagi, tempat ini adalah tempat para cendekia muda nongkrong memperdalam ilmu kanuragannya pengetahuan mereka. Meskipun ada juga yang terpaksa datang ke perpustakaan karena ‘target’ juga sering main di perpustakaan.
  4. OSIS
    Mau belajar jadi pemimpin, manager keuangan atau diplomasi mungkin ini dapat sedikit membantu. Meskipun kadang di blacklist sama salah satu guru karena sering meninggalkan kelas itu sudah jadi risiko, tetapi tak jarang ada guru yang berpihak kepadanya.
  5. Bimbingan Konseling (dhl. BP)
    Inilah MABESPOL (Markas Besar Polisi) Sekolah. Sampean gemar:

    • adu jotos,
    • kedapatan bawa rokok atau malah ngrokok,
    • membawa hal-hal yang berbau pornografi,
    • rambut gondrong atau dicat,
    • pelanggan setia ngurus ijin terlambat dengan alasan “Transportasi”, “Bangun Kesiangan”,”Nganter ibu ke pasar” atau malah “Ikut mbantu nggali liang kubur tetangga yang meninggal”,

    disinilah tempat penyelesaian masalahnya. Jelasnya disini tidak ada jalur damai, semua harus di proses sesuai dengan hukum yang berlaku.

    Tetapi tidak selamanya yang buruk-buruk harus berurusan di ruangan ini, ada juga orang pinter pake kacamata tebal, atau cewek dengan rambut kuncir dua kalo ngurus beasiswa juga disini tempatnya. Termasuk yang ngurus beasiswa dari Yayasan Semarsuper, eh Supersemar yang dulu diketuai oleh Bapak H.M Soeharto.

  6. Showroom
    Ini bukan showroom mobil atau apa, tetapi ruang pameran. Disini sampean bisa narsis dan unjuk gigi “ini baut buatan saya lho, keren kan…”
    Jadi lebih tepatnya kalo mau pamer ya silakan mampir di ruangan ini.
  7. Masjid
    Sudah jelas, disinilah tempatnya orang kembali ke “nol”. Semua aktifitas hanya ditujukan kepada-Nya. Kalo sudah sampe sini bingung mo nulis apa, karena semua sudah jelas.

Lantas apa hubungannya dengan kehidupan kita? Ya saya yakin bahwa selama kita hidup, pilihannya ndak cuma ada 7 seperti di atas. Jelas pilihannya semakin ruwet dan njlimet. Kita harus pinter-pinter memilih mana jalan yang layak kita lalui. Salah-salah bisa terjerumus dalam aliran sesat yang sangat menyesatkan.

Terlalu banyak pilihan, membuat kita beralih pilihan untuk hidup atau hidup untuk pilihan? Ya seperti memilih Hidup untuk makan atau makan untuk hidup itu selera masing-masing.

Kalo mau maruk dan penasaran, saya sarankan cobalah semuanya. Layak untuk dipertimbangkan dan dipikirkan kembali kata-kata yang pernah muncul di iklan minyak kayu putih “buat anak hidup kok coba-coba“. Tetapi sekali lagi bahwa Takdir itu kehendak Yang Maha Kuasa, kita hanya sak dermo nglakoni (sekedar melaksanakan–jawa) apa yang sudah menjadi skenario-Nya.

P.S. : Bahwa menanggapi usulan beliau Kanjeng Sinuhun Sultan Ndoyokarto Hadiningrat yang mengusulkan “Bloger of the month” maka dengan menambahkan warna hijau dalam foto dalm tulisan ini saya awali (niatnya) mengikuti style sodara Pepeng. Mau tehe alasannya? Niatnya sih biar biar dia bawa softdrink satu truk pas acara bloger bekisar besok Minggu :D
Salam

Annots
eScoret

{ 29 comments }

Buku vs HaPe

by annots on January 21, 2008

Miris, mungkin itu yang bisa simpulkan setelah membaca salah satu isi surat pembaca di surat kabar harian di jogja beberapa hari yang lalu. Program pendidikan gratis yang banyak dijanjikan pada saat kampanye Pemilu pun sepertinya memang sulit untuk terwujud. Tetapi saya tidak akan membahas dari sisi politik, karena semestinya sodara Gun yang lebih pantas menyoroti. Apa pasal? Beliau memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan khasanah politik selain merangkap menteri urusan dakwah kasultanan nDoyokarto Hadiningrat.
Berikut ini adalah cuplikan dari surat pembaca yang saya maksud. Bagaimana menurut sampean, ketika seorang pelajar kepincut untuk memiliki HP? Wajar, karena memang ini sedang trend. Ndak punya HaPe bisa jadi pusat olokan katrok/ndeso, basbang, dsb.
Okelah HaPe adalah trend, tetapi bagaimana jika pelajar tersebut rela menyisihkan uangnya hanya untuk membeli HaPe, padahal untuk membayar buku di sekolah saja kurang?
Tulisan pembaca seperti itu mungkin tidak akan pernah muncul di koran-koran jika janji-janji yang mulia wakil rakyat di parlemen sana menepati janji nya untuk mewujudkan pendidikan/sekolah gratis.
Apa yang musti kita lakukan? Ada beberapa opsi untuk menjawab surat tersebut. Menurut saya:
  1. Sadarkan dia, bahwa punya HP itu hukumnya ndak wajib
    Tidak harus punya, toh masih bisa pinjam temennya kalo cuma sekedar untuk misscall atau sms. Punya HP itu tidak berhenti disini saja, tetapi juga mesti menafkahi lahir berupa listrik , dan nafkah batin berupa pulsa.Kalau tidak mau dicerai oleh HP karena mengadu ke pengadilan agama toko HP atau pegadaian dengan alasan tidak mendapatkan nafkah lahir dan batin. Semua memang berisiko bukan?
  2. Gratiskan buku di sekolah Indonesia,
    Tetapi kabar buruknya putusan ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki pengaruh yang sangat kuat di negeri ini. Jadi opsi ini sangat kecil kemungkinan bisa terwujud.
  3. Bantu dengan doa
    Ndak ada salahnya turut serta mendoakan semoga efek dari menulis surat pembaca itu terkabul. Kalo memang cuma bisa mbantu doa ya ndak masalah, syukur-syukur bisa mbantu transfer pulsa jika kelak dia memiliki HaPe. Atau justru hati sampean terketuk untuk merelakan HaPe sampeyan pindah tangan ke pelajar tersebut?

{ 41 comments }

Berita cuaca

by annots on January 19, 2008

Sudah hampir satu minggu ini, Yogyakarta mengalami masa-masa dimana cuaca yang tidak menentu. Di siang hari sebentar panas, sebentar hujan kemudian panas lagi. Pada malam harinya taburan bintang-bintang di langit pun tidak bisa menjadi pertanda bahwa hari tidak akan hujan. Seperti tadi malam dalam perjalanan untuk membahas acara bloger BEKISAR (bersih-bersih sekitar mercusuar), hujan pun turun secara parsial dan tidak merata di semua wilayah bahkan hanya dalam radius 2-3 km.

Hal seperti ini kadang sering membuat kita jengkel, karena sudah terlanjur berhenti untuk mengenakan rain coat (jas hujan) dan melanjutkan perjalanan. Belum beranjak jauh, kita sudah melihat jalur yang kita lewati kering tanpa ada bekas air sedikitpun yang membasahi jalan. Nggonduk, mungkin orang jawa begitu menyebutnya.

Lantas saya berpikir, dulu yang biasanya di setiap program acara berita distasiun tv selalu menayangkan prakiraan cuaca, kini hampir tidak ada atau ditiadakan mungkin karena kondisi cuaca yang tidak menentu dan takut jika esoknya dituduh sebagai penyebar HOAX.

Kita sebagai manusia, harusnya bisa tau diri bahwa bumi tempat kita berpijak ini sudah sepuh. Kalau orang sudah sepuh, biasanya baru jalan sedikit saja sudah keluar keringat dan ngos-ngosan. Selain itu bisa jadi nama “Global Warming” membuat bumi ini merasa panas dan sering berkeringat bahkan pada malam hari. Jikalau “Global warming” bisa ngeblog, mungkin dia akan menuliskan tentang curahan hatinya “Mengapa saya yang selalu dituduh menjadi biang kerok semua bencana di muka bumi ini?”.

Jika air hujan di ibaratkan sebagai keringat bumi ini, sampai kapan kita biarkan bumi kita memiliki keringat berlebih. Kita harus respect dengan tempat tinggal kita, kita harus pikirkan deodorant untuk mengatasi keringat berlebih ini.

12 cara yang ditulis KOMPAS, mungkin bisa menuntun kita untuk menjadikan bumi terhindar dari penuaan dini dan tentu saja lebih awet muda. Atau untuk yang lebih senang menggunakan bahasa impor, enn.com menurut saya cukup bagus untuk kita translate dan dipublikasikan ke khalayak umum.

Saya jadi teringat dengan lagu yang dipopulerkan Gombloh lantas di daur ulang oleh Group musik Boomerang dan judulnya saya jadikan judul tulisan ini, berikut sepenggal liriknya,

Mengapa tanahku rawan ini
Bukit bukit telanjang berdiri
Pohon dan rumput enggan bersemi kembali
Burung-burung pun malu bernyanyi

Kuingin bukitku hijau kembali
Semenung pun tak sabar menanti
Doa kan kuucapkan hari demi hari
Kapankah hati ini kapan lagi

Mungkin seperti itulah kondisi saat ini tentang sebuah bola besar yang melayang-layang di angkasa bersama benda langit lainnya dengan manusia yang berakal cerdas diatasnya.

{ 22 comments }