by annots on December 7, 2007
Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar “metropolitan” atau “megapolitan”? Gedung pencakar langit, jalan bertingkat, macet, tempat hiburan malam.
Tak ada lagi semilir angin yang terhembus, tinggal dinginnya udara akibat pendingin ruangan, burung pun tinggal kicaunya dalam file mp3, bunga-bunga yang tumbuh indah itu hanya terpasang tak pernah layu dalam layar monitor.
Ah apa yang mau kita katakan ketika suatu saat nanti anak-cucu kita terlalu banyak bertanya “ini makhluk apa?” ketika melihat pohon, atau hewan-hewan yang sudah punah akibat tangan eyang buyutnya. [click to continue...]
by annots on December 6, 2007
Banyak komentar yang pasti akan muncul ketika melihat seseorang yang banyak diamnya sama halnya ketika kita ketemu sama orang yang hiperaktif.
Saya sendiri lebih suka diam waktu emosi tiba-tiba naik tak terkendali, saya ndak mau liat setan ada dalam bayangan saya yang ada di kaca. Bukankah marah itu temennya setan?
Kata orang bijak, Diam itu Emas, ya diam itu sama dengan batu mulia itu. Tetapi apa ini masih berlaku sodara? Diam tidak melulu berarti harus puasa bicara, diam juga berarti tidak beraktifitas.
Saya tidak bisa membayangkan, ketika para seleblog™ tiba-tiba mengundurkan diri dari kancah blogosphere yang kian nyata ini. Tiba-tiba hibernasi dan tidak lagi menulis di blog mereka. RSS reader kita tiba-tiba kosong karena tidak ada yang pernah update.
Lebih-lebih kalo seleb yang ini tiba-tiba berubah ID-nya menjadi antodiam atau antoanteng dan tak lagi ngomel-ngomel di blognya. Atau Ndoro yang mendadak sembuh dari pecas ndahe.
Bagi yang sudah kerja, diam itu berarti sp1. Siap2 angkat kaki dari ruangan dan kemasi barang-barang anda.
Tulisan ini saya angkat karena saya baru saja di tegur waktu beberapa bulan lalu ketemu teman saya jaman SMP yang kebetulan dulu sempat jadi wanita TO (target operasi) saya dan dulu berhasil terkena timah panas gombalan saya ala ABG kelas teri.
Q: Tujuh tahun ga ketemu, kamu sekarang kok jadi trouble maker, biang onar.
A: Emangnya kenapa kalo saya jadi tukang ribut, bukankah suasana menjadi hangat gara-gara saya? *PD mode ON*
Q: Heleh, diam itu kan emas toh…
A: Ya saya tau emang mbak-mbak atau wanita ga bisa diam, yang bisa diam itu mas-mas seperti saya ini. Makanya di bikin istilah “Diam itu mas-mas”. Tapi itu dulu, sekarang jaman emansipasi pria, pria juga boleh banyak ngomong toh…..
Q : Wong edaaaannnn…. Gila kamu tuh!!
Lha kalo saya yang gini ini sudah disebut biang onar, bagaimana dengan teman saya Didit, Zam yang konon meyebut diri mereka nabi baru senior ndoyok saya itu? Saya ndak bisa mbayangke kalo didit diam, bisa geger tur bikin porak-poranda di peradaban bumi mataram ini.
by annots on December 5, 2007
Denger kata makelar sudah tidak asing kan? Jadi tidak perlu saya jelaskan apa dan siapa makelar itu. Pada umumnya profesi yang satu ini banyak dicap sebagai pendusta, suka menaikan harga jual dari aslinya, dsb. Tapi saya saya juga ndak mau ngributin dan memancing emosi sodara-sodara yang pernah berurusan dengan makelar atau bahkan anda yang berprofesi sebagai makelar.
Kejadian siang ini membuat saya yang bukan anggota GAMAWATI (Gabungan Makelar Waton Bathi = Gabungan Makelar Asal Untung) dan karena saya bukan seorang makelar kebingungan ketika saya ditanya oleh partner kerja minta bagian berapa. Wa lah dalah, saya ini ga rumangsa ikut ngerjain apa-apa kok disodori pertanyaan begituan.
Ada yang punya daftar tarif makelar? Boleh saya pinjam?