Hutan Beton Berdaun Kaca

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar “metropolitan” atau “megapolitan”? Gedung pencakar langit, jalan bertingkat, macet, tempat hiburan malam.

Tak ada lagi semilir angin yang terhembus, tinggal dinginnya udara akibat pendingin ruangan, burung pun tinggal kicaunya dalam file mp3, bunga-bunga yang tumbuh indah itu hanya terpasang tak pernah layu dalam layar monitor.

Ah apa yang mau kita katakan ketika suatu saat nanti anak-cucu kita terlalu banyak bertanya “ini makhluk apa?” ketika melihat pohon, atau hewan-hewan yang sudah punah akibat tangan eyang buyutnya.

Anak : “Ayah, duluan mana sih ayam sama telur?”
Ayah : “Ayam…”
Anak : “Kalau telur sama ayam duluan mana, Yah?”
Ayah : “Telur…”
Anak : “Ayah kok ga konsisten!?”
Ayah : “#!@$&%^”

Seperti kalau kita penasaran dengan makhluk yang bernama Dinosaurus lantas kita bisa lihat film “Jurassic Park”, jadi bisa saja kelak anak cucu kita akan melihat hewan dan tumbuhan yang punah dari rekayasa grafis komputer. Memilukan.

Ironis sekali, Indonesia yang konon menjadi paru-paru dunia dan rumah bagi satwa langka berubah menjadi hutan beton. Mall dibangun dimana-mana dengan dalih menarik investor dan penanam saham. Tidak kah kita tau pedagang pasar tradisional itu, pemilik warung kelontong dipinggir jalan desa menjerit karena hadirnya waralaba minimarket menjamur dimana-mana.

Lantas apa yang harus kita perbuat? Jikalau memang pemerintah terlalu sibuk untuk memikirkan pelestarian alam, saatnya kita bergerak untuk menyelematkan bumi kita. Atau kita menunggu alam ini murka?

Banyak orang pintar di negara ini, tetapi tak punya kekuasaan. Tetapi juga banyak orang berkuasa di negara ini namun tak punya kepintaran.

Pesanku untuk senior jengjeng yang sedang ndoyok ke Jakarta, jangan kau terpikat dengan fatamorgana ibukota, yang kau lihat itu bukan candi tetapi gedung pencakar langit. Candi Gebang sudah menantimu kawan.

Gambar diambil dari sana sini.

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments

Dukung udara bersih tanpa pertamax dan antek-anteknya!

Setuju!!! tapi ketoke orang2 Jkt itu emang lebih seneng dg hutan beton dan kaca tinimbang hutan beneran. mall udah ratusan, semuanya penuh. ga bisa mendengar kicauan burung di pagi hari. menyedihkan!!

hihihihi..
susah. coba deh duimule dr diri sendiri.
buang sampah di tempatnya pun kadang2 males kan?
gimana klo brenti mengendarai motor dan beralih ke sepeda? ;))

@atas
ogah.. sepeda saya sudah rusak je .. .

setuju dan saya jadi ke-empatx!! :P

didut : kamu kelimax…

bung annots, indonesia bangga punya orang2 kayak sampeyan D

@didut
mungkin mau bilang pake motor empatax ya?

@antobilang
hasyah, pake ngrayu segala kamu To, to the point saja kamu mau ngajak saya ke Bali? Hohoho…. oleh2nya sajalah… *format ulang HD kantor buat nampung oleh2 dari Bali*

aku masih bisa lihat gunung, kebun teh, awan putih dari jendela ruanganku tuh, bersyukurnya akuu

tenang aja zam nda bakalan nyasar, kok

banduuung….*mupeng*, heh saya ndak yakin kalo Zam ga nyasar, lha wong peta yang mau di bawa ke JKT ketinggal di kos gara2 buru2 ngejar mbak Senja Utama yang aduhai di stasiun Tugu.

desa sayapun sudah mulai rusak.hixx… T_T

enak teh tinggal di kampung.. eh di desa aja… *kampung ama desa enakan mana sih…??*

Walah, kalo pulang ntar om Zam bisa berubah haluan jadu pakar gedung ya? :?

lho bukankah kita juga ikut andil didalamnya
beton menjadi lambang pesatnya kemajuan, dan kita bangga telah dilindungi olehnya

*enakan beton sunduk! eh.. sori.. itu beton nangka yah*

Makanya saya menolak ditawari kerja di Jakarta… :)

jakarta baik utk mengais rejeki
tapi kurang baik untk mengais udara bersih :D

vote annots for president!!!!!!!!

hampir tak berbeda antara beton dan kayu antara hutan tropis dengan hutan metropolis… :) salam

@bachtiar
Mungkin karena sampeyan tinggal merantau jadi rusak, coba kalo sampeyan tetep tinggal di desa :D
@ajiputra
hmmm, ayam kampung sama ayam ndeso enak mana?

@rozenesia
maybe yes maybe ya :lol:
@peyek
beton sunduk itu khas mana ya kang?

@suandana
*idem* eh tapi itu baru ditawari ya?

@detnot
gyahahaha…setuju!!!

@Hoek Soegirang
Heleh, aku jadi president kamu tak jadiin sekjen PBB

@kurtubi
yang sama orang2 yang ada didalamnya “orang hutan”

Di foto yang bawah saya lebih memilih yang bagian kanan …

Haduh pusink gue mikirin gedung berbeton. Gara-gara gedung berbeton kita semua jadi harus kebanjiran tiap hujan datang, najis! Kok pemerintah bego banget yah terus-terusan bikin gedung-gedung tinggi dan membabat pohon.Payah ach.

yang ada saat ini bukannya warisan nenek moyang,
tapi pinjaman dari anak cucu kita

ada yg pernah bilang gitu ke saya,
cara pandang sedikit beda…
yg mungkin bisa menuntun cara tindak yg beda juga :)

hahahaha… hetrik wae… wah, nek gon kuwi aku rodo wedhi…

Thanks buat nginget-in kita ;) Btw, di beberapa negara aku men-dengar kalau ada yang sudah me-manfaat-kan puncak gedung sebagai taman juga lho :P

@deKing yang biasa2 saja
idem, sepakat

@bangbadi
semoga kemarin pada ga salah pilih gubernur :mrgreen:
@nien
cara pandang yang lebih menuntut tanggung jawab kita untuk mengenmbalikan pinjaman ke anak cucu

@arraw
Wedhi karo opo e Mas?

@extremusmilitis
Lha kalo cuma di pucuk2 gedung apa ga malah seperti kayu yang ditumbuhi lumut?

tulisan yang bagus nih Nots :), gak kebayang nasib anak cucu kita nanti…apakah masih bisa menikmati bumi yang hijau?

loh yah gapapa toh mas, justru jakarta perlu orang2 yang peduli lingkungan lebih banyak lagi. Semakin banyak yg mengkritisi jakarta tidak hanya omdo bakal bikin lingkungan yg lebih baik lagi. Sok atuh mas annot pindah aja ksini :D

he eh mas..ya gitu itu jakarta…sumpek banget. bisa ga ya dibikin hutan kota di ijakarta?

*garuk-garuk*

saya belum sempet ke Lingga-Yoni raksasa!!

hutan beton berdaun kaca, penuh lendir …:)

Leave a comment

(required)

(required)


kinanthi