Tersiar kabar 1700 PNS dikenai sanksi akibat menyalahgunakan internet pada saat jam kerja. Sanksinya bermacam-macam ada yang diperingatkan, mengundurkan diri bahkan sampai dipecat. Beruntung aturan ini berlaku di negerinya Ratu Elizabeth, di Indonesia belum dan semoga tidak pernah ada aturan semacam ini.
Menyoroti masalah penggunaan internet pada saat jam kerja, ini cukup menohok hati kecil saya. Karena saya pun juga sering berinternet pada jam kerja. Meskipun pekerjaan saya memang membutuhkan koneksi internet, tapi perbandingannya cukup mencengangkan apabila dibandingkan dengan aktifitas blogging, dan beremail.
Menurut saya, di Indonesia belum bisa diterapkan peraturan tentang larangan ini. Bukankah di Indonesia ini lebih mengutamakan absen kehadiran karyawannya dari pada kualitas SDM-nya? Masih inget dengan kartu absen? Bukan rahasia publik lagi, di Indonesia masih ada banyak yang menggunakan mesin absen seperti itu. Bukankah mudah bagaimana cara ngakalinnya?
Anda yang biasa menemuinya didekat pos satpam atau pintu masuk gedung perkantoran pasti lebih tau bagaimana cara ngibuli alat ini. Mudah saja, tinggal kerja sama dengan rekan kerja yang rajin datang pagi tinggal nitip saja “Tolong aku diabsenkan dulu ya! Saya lagi bla bla bla…..”, habis perkara! Mau dikroscek diakhir bulan sama atasan ya bisa dipromosikan jadi karyawan telatan teladan. Padahal jam makan siang baru nampak markir sepeda motor.
Ada cerita dari seorang wartawan senior, bahkan pernah dijadikan sebagai berita opini dalam sebuah media masa “Ketika Manager membeli waktu para pegawainya”, merupakan hasil pengamatannya di lapangan, bahwa para pegawai yang datang pagi pun setelah absen di mesin itu tidak langsung segera bekerja tetapi justru duduk-duduk ngobrol ngalor-ngidul di kantin sambil menikmati rokok dengan secangkir kopi kental.
Bukankah masih mending ada karyawan seperti saya yang datang pagi-pagi absen terus cek email, blogwalking sambil memonitor server mesin hitam besar meski hanya dengan akses internet yang ngos-ngosan? Pokoknya yang penting komputer hidup dulu dan selalu ada ketika 334 itu berdering dengan lantangnya, bukannya apa-apa siapa tau itu panggilan untuk tandatangan diawal bulan -harap-harap cemas-.
Kembali ke peraturan di Inggris tadi, saya tidak berharap kalau peraturan ini diterapkan di Indonesia sebelum benar-benar bisa menggantikan mesin absen itu dengan alat yang lebih modern, misalnya absen dengan deteksi IP-Address ketika Komputer dihidupkan dan dimatikan, bukankah ini lebih real able -meskipun masih tetep bisa dititipkan sama teman di meja sebelah-. Teknologi secanggih apapun masih bisa diakali dengan SDM Indonesia.
Semuanya kembali ke pribadi masing-masing, apakah mau disebut makan gaji buta dengan sedikit bekerja dan terus berinternet pada jam kerja? -glek, dalem banget menohok di hati saya-. Lebih-lebih malah sibuk download lagu yang jelas-jelas tidak diperkenankan download dari judul lagunya.
Misalnya, peraturan di Inggris tadi diterapkan di Indonesia, satu pertanyaan saya “Andakah salah satunya?” yang bakal terkena imbasnya? Diperingatkan dengan lisan, di paksa mengundurkan diri atau bahkan DIPECAT?
Nb: karena di tempat saya kerja ndak pake mesin absen, saya comot gambar di atas dari sini.
Ah memang tidak selamanya kemajuan teknologi membuat pengguna menjadi lebih maju. Gara-gara HP yang ada kameranya itu banyak yang bilang kalau HP itu emang barang 

