by annots on October 10, 2007
Perbedaan jatuhnya 1 syawal, baju baru, diskon, kemacetan di jalur mudik selalu menyambut hari kemenangan umat muslim. Kalo di kaji lebih dalam, sebenarnya siapa yang menang?
Proyek penggemblengan diri sudah hampir usai. Inilah kawah candradimuka bagi kita, dimana kita mencoba melawan hawa nafsu. Kalau Gatotkaca setelah dilepas dari kawah Candradimuka menjadi ksatria yang sakti tetapi tetap rendah hati.
Setelah bulan ramadhan, ada bulan syawal dan sering disebut-sebut sebagai hari kemenangan pada tanggal 1 Syawal. Perkaranya adalah bagaimana dengan tanggal 2, 3, dst? Mengalami peningkatan atau kembali seperti sedia kala?

Sebelum libur panjang mendera -bahasa halusnya fakir benwit- dengan segenap rendah hati saya memohon maaf atas kesalahan kata, perbuatan yang pernah saya lakukan di dunia maya atau dunia fana. Semoga ibadah kita diterima, dan menjadi catatan amal kebaikan bagi kita. Berharap mudah-mudahan dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Amin.
by annots on October 10, 2007
Hari minggu kemarin ini, CahAndong merayakan 1st anniversary. Ajang seperti ini pun tak cuma sekedar untuk bertemu di dunia nyata tapi juga untuk belajar paham narsisme yang mungkin tidak dimiliki blogger yang lainnya ketika foto dengan gaya itu-itu saja bahkan berpose seakan-akan mau foto setengah badan.
Well, bukan itu yang ingin saya bahas disini. Dari sekian banyak menu yang ada, saya tertarik pada nasi yang dibentuk mengerucut dan dikelilingi dengan berbagai macam makanan. Ulang tahun, peresmian gedung, tasyakuran biasanya tak luput dari kehadiran makanan yang biasa disebut tumpeng ini.
Saya juga tidak akan membagikan resep bagaimana cara membuat nasi tumpeng yang lezat, meskipun saya tidak ikut ngrahapi tumpeng dalam acara kemarin -karena harus segera merapat ke pagelaran kraton Yogyakarta untuk sekedar melihat salah satu budaya jawa- paling tidak saya percaya tumpeng yang dibawa mbak Unai ini mak nyooosss rasanya.

Filosofi tumpeng
Meskipun saya ini bukan seorang filsuf tapi dulu saya pernah punya guru hebat. Selain guru di kelas beliau juga mengajarkan tentang filsafat, termasuk filosofi tentang tumpeng ini.
- Bentuk yang mengerucut sepengetahuan saya yang namanya tumpeng bentuknya selalu kerucut, meskipun dasaran/nya dapat diberikan berbagai macam bentuk. Bentuk ini menggambarkan sebuah kegotongroyongan stakeholder untuk mencapai visi dan misi yang disimbolkan dengan pucuk tumpeng (biasanya ditaruh cabe di atasnya) dengan asas kebersamaan. Jadi sudah jelas organisasi masa dimanapun harus selalu mengedepankan kebersamaan, kegotongroyongan untuk mencapai tujuan.
- Paduan berbagai macam sayuran/lauk disekelilingnya Seperti yang sudah dijelaskan dalam ayat satu (keseringan kena pasal-nya pak pulisi jadi latah kata ayat), bahwa peran serta stakeholder sangat berperan dalam tercapainya tujuan sebuah organisasi. Berbagai macam sayuran yang ada di sekeliling tumpeng menggambarkan keanekaragaman masing-masing individu dengan latar belakang dan karakter yang majemuk.
Meskipun kadang merasa ada orang lain dengan kelakuan yang aneh dan beda dengan manusia yang lainnya, tapi tanpa kehadirannya rasanya jadi beda. Nah disinilah pemaknaan dari sayuran dan lauk yang ada. Semua saling membutuhkan dan saling melengkapi.
- Mengapa harus dipotongNah ini yang menjadi pertanyaan mengapa tumpeng harus di potong? Capek-capek di bentuk sedemikian rupa kok akhirnya ya dipotong juga. Perlu diamati, biasanya pemotongan dilakukan oleh orang yang berpengaruh dan diserahkan kepada perwakilan stake holder. Ini menggambarkan bahwa visi, misi dan tujuan yang dilambangkan puncak tumpeng bukan tanggung jawab seorang pemimpin saja tetapi orang-orang yang menjadi bagian di dalamnya juga.
Akhirnya, sebagai pribadi saya mengucapkan selamat kepada CahAndong, yang telah merayakan milad pertamanya pada tujuh Oktober yang lalu. Sukses dan tetaplah jaya udara dan jaya di darat dengan kopdar dan kegiatan-kegiatan sosialnya.
Kesuksesan CahAndong semata-mata bukan ketika memberikan SHU yang besar kepada anggota semacam koperasi tetapi ketika CahAndong bisa bermanfaat dan berguna bagi orang lain, bahasa KR-nya “Migunani tumraping liyan”.
***
Ngomong-ngomong soal ulang tahun, pertanyaan yang tak kalah menarik adalah mengapa dalam acara ulang tahun harus ada tiup lilin bahkan di awal sudah dinyanyikan “Panjang umur”? Padahal bagi yang menganut ajaran/ilmu tertentu mereka justru harus menjaga nyala api lilin di atas air dalam baskom tetap menyala agar bisa kembali dengan selamat –cmiiw-.
by annots on October 8, 2007
Ya, judul di atas adalah judul dari sebuah lakon kethoprak yang dipentaskan di pagelaran kraton Ngayogyokarto Hadiningrat dalam rangka HUT kota Yogyakarta yang ke-251. Meski saya janjian sama mas eko dan bu eko jam 19.30 tapi saya datang terlambat karena ada acara ULTAH komunitas blogger Jogja CahAndong yang ke-1.
Kedatangan kami ke pagelaran kraton bukan tanpa tujuan apa-apa, selain sengaja pengen melihat budaya yang sudah jarang ditemui KETHOPRAK, juga dalam rangka tugas dari tabloid BIAS. Tabloid BIAS adalah tabloid yang diperuntukkan pelajar-pelajar SMU/K dan MA di DIY. Tentu saja di bawah binaan dinas Pendidikan Propinsi DIY.
Kembali ke Pagelaran Kraton. Salah satu tujuan diadakan pentas ini adalah untuk lebih mengenalkan sejarah kota Yogyakarta (lebih tepatnya Mataram) kepada masyarakat sekitar, seperti yang disampaikan ketua penyelenggara dalam pidato sambutannya. Dari sekian banyak penonton yang ada, tampak juga disana beberapa pasangan ABG (Anak Baru Girang Gede), saya pikir memang mau belajar sejarah, we lha jebulnya mau belajar sejarah yang “lain“-nya (maap, no skrinsyut).
Agak lama mendengarkan sambutan dari Ketua Penyelenggara, Bapak Walikota dan Bapak Gubernur akhirnya kethoprak dengan lakon “Mangkubumi Hambangun Kutha Wana Asri” yang didukung oleh beberapa artis ibukota mulai pentas pukul 21.30. Sudah terlalu malam untuk ukuran seorang wartawan kagetan™ semacam saya, yang dari pagi membelah kota Jogja dari Prambanan hingga Pingit dari pukul 10 pagi.
Bagi para penonton bisa melihat pertunjukan kethoprak dari giant screen yang sudah disediakan pihak penyelenggara.

Tidak menunggu sampai pentas selesai, kami pun hengkang WO dari ruang sidang yang terhormat. Ada beberapa yang memaksa kami bertiga untuk segera pulang:
- Penonton dibelakang kami
banyak ngomong berisik.
- Toiletnya jauh, padahal waktu itu saya mengidap HIV (Hasrat Ingin Vivis) sampai-sampai harus berjalan kaki ke Masjid Gede untuk melepas
lelah HIV.
- Alasan utamanya adalah rasa kantuk dan capek. Saya juga harus konsen melototin lampu bangjo sengaja untuk menghindari perkara-perkara yang tidak saya inginkan (lagi).
Foto : Doc. Mas Eko