From the monthly archives:

August 2007

Pertemuan vs perpisahan

by annots on August 31, 2007

Dua kejadian diatas bisa mengundang ekspresi yang bermacam-macam. Tidak setiap pertemuan bisa mengundang kebahagiaan, begitu juga dengan perpisahan yang tidak selalu berkahir dengan tangisan.

Membaca tulisan bung M. Zamroni perihal perpisahannya dengan Taufiq Ismail yang juga teman saya di komunitas CahAndong, perpisahan adalah hal yang wajar dan pasti terjadi dalam setiap pertemuan/perjumpaan. Sedih, haru tapi juga bangga ketika kami harus berpisah karena memang teman yang biasa suka dipanggil tuuuupic(tulisannya bener begini bukan ya?) berhasil menyelesaikan studinya.

Ingat kawan, perpisahan hanyalah perbedaan dimensi ruang. Kita cuma beda tempat saja, komunikasi masih bisa kecuali kalau yang bersangkutan tinggal di pelosok yang belum terjamah sinyal HP apalagi internet. Pesan saya ketika tinggal di pelosok dan tak ada sinyal disana, jangan lupa beli sinyalnya juga(basbang yah?).

Perpisahan dengan penculik mungkin itu hal yang diinginkan oleh korban penculikan seperti Raisya Ali yang akhirnya berpisah dengan sang penculi, begitu juga pertemuan dengan sang penculik mungkin akan mengakibatkan trauma yang mendalam.

Berbeda jika kita bertemu dengan sang pujaan hati, bisa membuat hari begitu indah ketika berada disampingnya bahkan ketika hari sedang hujan begitu deras. Ngomong soal pujaan hati saya jadi inget cerita dari teman saya, suatu hari dia bangga dengan IPK yang diperoleh 3,8 (hebat banget nih anak). Niatnya mau pamer sama do’i. Sinar matahari yang terik pun tak menghalangi perjalannya ke tempat kos si do’i. “Cihuuiiii, 3,8!!!” katanya pada sang do’i. Tapi siang itu juga do’i mengatakan “Kita putus!!”, sontak saja langit menjadi gelap meski saat itu matahari bersinar dengan teriknya. Kalau yang ini pertemuan yang menyakitkan bukan?

Berbagai cara kita mengahadapi pertemuan dan perpisahan, harus disadari bahwa setiap pertemuan cepat atau lambat pasti akan ada perpisahan. Entah itu perpisahan yang seperti apa tapi pasti di ujung pertemuan pasti ada perpisahan.

{ 20 comments }

Anda sopan kami segan

by annots on August 30, 2007

Tulisan seperti judul di atas sering kita jumpai ketika kita melintas di jalan/gang di kampung atau komplek perumahan(maaf tidak ada foto dokumentasi).  Sebenarnya tidak perlu ada tulisan seperti ini setiap orang pasti juga menerapkan hal yang sama meskipun setiap orang memiliki cara sendiri bagaimana menanggapinya.

Satu minggu terakhir, ruangan dibanjiri mahasiswa yang mendaftarkan diri sebagai mahasiswa alih angkatan.  Mahasiswa lama yang terpaksa harus berhadapan dengan kami adalah mereka yang tidak bisa menyelesaikan studi dalam kurun waktu yang sudah ditentukan dari Dikti.  Tentu saja mereka adalah mahasiswa lama yang sudah jauh berubah dari dulu waktu mereka masuk lulus SMA yang masih culun polos dan tau paling tidak sedikit sopan santun.   Yah harap maklum saja, mahasiswa lama otomatis menghuni di kampus lebih lama dan merasa kampus adalah miliknya dan harus tunduk pada mereka.

Meskipun demikian, saya sadar tidak semua mahasiswa seperti ini, tapi saya menemukan 3 diantara 10 mereka selalu mengeluarkan kata-kata yang kurang pas.   Mereka tidak lagi mengenal sopan santun dalam berbicara kepada orang lain, entah lebih muda atau bahkan lebih tua.  Bukan saya atau teman-teman kami minta dihormati, mereka tidak sadar kenapa mereka harus berhadapan dengan kami.  Salah siapa waktu yang sekian lama tidak digunakan sebaik-baiknya dan terpaksa harus pemutihan?  Emangnya kuliah gratis di tempat eyangnya?  Masuk seenaknya keluar seenaknya?

Memang sebagaian dari mereka, terpaksa harus pemutihan karena juga sibuk kerja.  Bagaimana dengan mereka yang waktu kuliah justru sibuk cari alasan untuk bolos?  Dosen killer? Saya rasa bukan alasan.  Se-killer-killer-nya seorang dosen mereka juga pernah jadi mahasiswa dan mereka juga manusia.

Tulisan kali ini, memang beraroma emosi.  Semoga setelah menuliskan ini saya bisa mengendalikan rasa  emosi yang ada di kepala.  Kepada teman-teman mahasiswa, tidak sadarkah pihak universitas sedang membantu langkah kita untuk menyambut masa depan dan meraih cita-cita kita?  Jangan nodai niat baik mereka, dan menganggap kita dipersulit?  Toh sebenernya kita sendiri yang mempersulit diri kita sendiri.  Mengapa saya menggunakan kata “Kita”?  Karena saya juga bermaksud mengingatkan diri saya sendiri yang kebetulan masih berstatus mahasiswa juga.

{ 17 comments }

Monumen Plataran

by annots on August 25, 2007

Monumen Plataran berlokasi di Plataran, Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta tak jauh (baca: ± 8 km) dari tempat saya ngeyup sehari-hari (baca: rumah) .  Didirikan tanggal 24 Februari 1977, monumen ini adalah salah satu monumen dari 2 monumen yang didirikan untuk mengenang parana pejuang taruna yang mempertahankan kemerdekaan RI tahun 1945-1949.  Satu monumen yang lain adalah SMP Taruna Bhakti (sekarang SLTP N 2  Kalasan) yang didirikan 4 km di selatan monumen ini.

Saksi bisu

Pagi itu, Selasa Pon 24 Februari 1949 telah terjadi pertempuran di desa Plataran, Selomartani, Kalasan antara pejuang-pejuang Indonesia (tentara Indonesia dan rakyat sekitar) dengan kerajaan Belanda.  Pagi itu juga tewas dalam pertempuran 2 orang perwira  remaja, 5 taruna dan anggota tentara pelajar, 2 orang luka parah.  Ratusan nama yang tertulis di bawah patung itu lah mereka yang bertempur pagi itu.

Sebagai tanda penghormatan bagi para taruna yang telah berjuang untuk negara kita, atas prakarsa Mayor Jenderal Wijogo Atmodarminto dan didukung donatur yang telah membantu proyek pendirian monumen ini.  Sebut saja pak Ali Sadikin, Suparjo Rustam, Susilo Sudarman dan juga Bang Yos (Sutiyoso) yang disebutkan dalam prasasti sebagai perwira senior saat itu (1977).

30 tahun kemudian

Saat ini jika kita berkesempatan jeng-jeng (pinjam istilah M. Zamroni) kesana, tidak ada perawatan secara khusus terhadap monumen yang notabene sebagai tanda penghormatan terhadap pejuang negeri yang menghargai jasa para pahlawan ini.  Apalagi di belakang
patung pak tentara itu terdapat banyak tulisan tangan-tangan jahil.

Sebenarnya tulisan-tulisan seperti ini sudah bisa kita jumpai di pintu masuk.  Apa karena masuk monumen ini tidak di pungut biaya para pengunjung bisa melakukan seenak udel-nya sendiri?  Dan mereka(tangan-tangan jahil) tak rela jika ada tembok yang bersih kemudian menorehkan nama geng(komunitas) mereka di tembok/dinding itu?  Tapi lebih memprihatinkan lagi adalah orang yang membiarkan tulisan itu tetap disana dan justru mengambil fotonya. Yuk bersama kita, Benahi Jakarta Indonesia!!!

Terlepas dari keseriusan tulisan ini 

Setelah lelah berjalan, maka saatnya saya mencoba membidik diri sendiri.  Yah, sangat manusiawi ketika mencoba mengabadikan diri sendiri sebagai kenang-kenangan, meskipun saya datang kesana sendiri.

Jangan suka kencing sembarangan, karena sudah disediakan toilet disana.  Kalau masih nekat mungkin akan seperti ini akibatnya, meskipun saya sedang tidak melakukan aktifitas kencing™.

Sebelum meninggalkan monumen jangan lupa ambil gambar kita dan kuda kendaraan yang sudah mengantar kita sampai tempat tersebut.

Akhirnya, Dirgahayu Republik Indonesia!!!

{ 17 comments }